13 Rumus Rasio Keuangan untuk Mengukur Pencapaian Bisnis

rumus rasio keuangan

Setiap pengusaha butuh untuk melakukan analisa kinerja bisnisnya, agar memperoleh informasi mengenai kemampuan mengola sumber daya – sumber daya usaha, hingga menghasilkan keuntungan bagi para pemilik kepentingan.

Selain berguna bagi pengusaha, analisa keuangan bisnis juga dibutuhkan oleh para investor, untuk menilai kelayakan suatu bisnis memperoleh investasi.

Analisa tersebut tidak hanya cukup dilakukan dengan membandingkan capaian penjualan dan biaya-biaya usaha. Sebab, metode itu tidak memberikan gambaran terperinci proses usaha dalam periode tertentu.Sehingga, agar diperoleh informasi kinerja bisnis yang lebih detail, diperlukan serangkaian rumus rasio keuangan usaha.

Apapun jenis dan kelas bisnisnya dapat mengunakan cara analisa keuangan usaha ini. Dengan syarat, bisnis tersebut telah melakukan pencatatan transaksi keuangan dengan baik, sehingga memiliki laporan keuangan berupa neraca dan laporan laba-rugi.

Jika tersedia dua jenis laporan keuangan tersebut, maka analisa laporan keuangan dapat dilakukan. Prosesnya adalah dengan membandingkan angka-angka yang terdapat pada neraca dan laporan laba-rugi.

Komparasi dapat dilakukan antar data pada neraca (Balance sheet ratio), antar data pada laporan laba-rugi (income statement ratio), atau antar data pada neraca dan data lain pada laporan keuangan (intern statement ratio)

Balance Sheet Ratio

Analisa rasio keuangan mengunakan data pada neraca dapat dilakukan mengunakan 5 rumus rasio keuangan berikut ini:

1. Debt Ratio

Melalui rasio keuangan ini didapatkan informasi porsi hutang suatu usaha terhadap kekayaan yang dimiliki. Nilai rasio lebih besar dari 0.5 menunjukkan bahwa bisnis tersebut dibiayai oleh lebih banyak hutang dibandingkan modal pemilik usaha.

Debt Ratio = Total Hutang : Total Aset

2. Equity Multiplier

Rasio ini merupakan variasi dari Debt Ratio, semakin besar nilai rasio keuangan ini menunjukkan semakin banyak porsi hutang digunakan untuk membiayai bisnis tersbut.

Equity Multiplier = Total Aset : Total Modal Pemegang Saham

3. Debt to Equity Ratio (DER)

Rasio keuangan ini mengambarkan bagaimana proporsi sumber dana suatu bisnis untuk mengembangkan usahanya. Nilai rasio lebih besar dari 0.5 menunjukkan bahwa bisnis tersebut dibiayai oleh lebih banyak hutang dibandingkan modal pemilik usaha.

Debt to Equity Ratio = Total Hutang : Total Modal

4. Current Ratio

Adapun mengukur kemampuan usaha (perusahaan) melunasi kewajiban-kewajiban jangka pendeknya dapat dilakukan mengunakan rasio keuangan Current Ratio ini. jika nilai rasio ini dibawah 1  menunjukkan bisnis bisa saja akan tidak memiliki kemampuan membayar kewajiban jangka pendeknya, atau mampu membayar dengan tambahan menambah hutang.

Current Ratio = Aset Lancar : Kewajiban Lancar

5. Quick Ratio

Jika dibandingkan dengan Current Ratio, Rasio keuangan ini lebih mengambarkan kemampuan keuangan bisnis dalam membayar kewajiban jangka pendeknya. Sehingga, semakin kecil nilai rasio keuangan ini, maka semakin baik kondisi bisnis itu.

Quick Ratio = Quick Aset : Kewajiban Lancar

Quick Asset = Aset Lancar – Persediaan

Income Statement Ratio

Selanjutnya 4 rumus rasio keuangan berikut ini bisa digunakan untuk melakukan analisa laporan keuangan mengunakan data yang tercantum pada laporan laba-rugi.

1. Gross Profit Margin

Rasio keuangan dapat memberikan informasi mengenai efisiensi proses produksi dan distribusi suatu usaha, semakin besar nilai rasio keuangan ini menunjukkan menunjukkan kemampuan management mengelola produksi dan pemasaran lebih baik.

Gross Profit Margin = Laba Kotor : Penjualan

Laba Kotor = Total Penjualan – Harga Pokok Penjualan HPP)

2. Operating margin

Rasio ini juga digunakan untuk mengukur tingkat efisiensi management dalam mengelola bisnis. Bisnis yang memiliki rasio keuangan ini besar biasanya memiliki kinerja lebih baik dibandingkan kompetitornya dengan rasio lebih kecil.

Operating Margin = Pendapatan Operasi : Total Penjualan

Pendapatan Operasi = Laba Kotor – Biaya Operasi – Penyusutan

3. Interest Coverage Ratio

Rasio keuangan ini menunjukkan kesehatan bisnis dalam jangka waktu pendek, karena memberikan informasi kemampuan bisnis membayar kewajiban bunga atau margin pinjamannya

Interest Coverage Ratio = EBIT : Biaya Bunga Hutang

4. Net Profit Margin

Jika gross margin mengambarkan efisiensi proses bisnis perusahaan. Rasio ini menunjukkan kemampuan suatu bisnis menghasilkan keuntungan dari setiap Rp. 1 penjualan (atau pendapatan). Semakin tinggi nilai rasio ini akan semakin banyak kas yang tersedia bagi bisnis untuk memberikan bagi hasil kepada pemegang saham atau digunakan untuk mengembangkan usaha.

Intern Statement Ratio

Terakhir, analisis laporan keuangan mengunakan data pada neraca dan laporan laba rugi dapat dilakukan mengunakan 4 rumus rasio keuangan berikut:

1. Return On Asset

Rasio keuangan ini menunjukkan kemampuan efisiensi peruhasaan atau bisnis mengelola sumber dana mereka menjadi Aset yang dapat menghasilkan keuntungan. Semakin besar nilai rasio ini bisnis atau perusahaan tersebut semakin efisien.

ROA = Laba Tahun Berjalan : Total Aset

2. Days Receivable (DR)

Tidak semua penjualan diterima perusahaan secara kas, sering kali untuk meningkatkan pemasaran produk, mereka memberikan piutang kepada konsumennya . Semakin cepat waktu yang dibutuhkan suatu bisnis untuk menagihkan piutang mereka menjadi pendapatan kas, akan semakin baik bagi keuangan perusahaan. Adapun rumus rasio keuangan ini adalah:

Days Receivable = (Piutang Dagang : HPP) x 365 hari

3. Days Inventory (DI)

Dalam proses produksi, suatu bisnis akan memiliki persedian bahan mentah atau bahan baku untuk diolah menjadi produk untuk dipasarkan. Selain itu, barang jadi setelah proses produksi senbagian menjadi stok sebelum disalurkan ke distributor atau pasar. Semakin cepat pergerakan persediaan sampai kejalur distribusi semakin baik bagi bisnis tersebut. Rasio keuangan ini dihitung mengunakan rumus

Days Inventory = (Persediaan : HPP) x 365 hari

4. Days Payable (DP)

Terkadang suatu bisnis membeli persedian atau melakukan pembayaran kewajiban dengan cara hutang. Rasio keuangan ini untuk mengukur berapa lama waktu yang tersedia bagi perusahaan unutk membayarkan kewajibannya. Semakin besar dilai DP maka bisnis memiliki keleluasan waktu mengunakan kas untuk kegiatan bisnis lainya, seperti investasi jangka pendek.

Days Payable = (Hutang Dagang : HPP) x 365 hari

Ketiga rumus rasio keuangan ini digunakan untuk menghitung lama siklus konversi aktiva, yaitu jangka waktu suatu bisnis akan menerima pendapatan dari aktivitas produksinya, dimulai dari saat pertama kali bisnis tersebut mengeluarkan kas untuk membeli persediaan.

Misal, suatu bisnis memiliki hari piutang dagang (DR) 30 hari, hari persediaan (DP) selama 20 hari, dan hari hutang dagang (DI) selama 15 hari, maka lama waktu yang dibutuhkan bisnis dari saat pertama kali bisnis mengeluarkan kas untuk persedian sampai bisnis tersebut menerima uang kas adalah 35 hari.

Siklus Konversi Aktiva = DR + DP – DI

Setelah mengetahui 13 rumus rasio keuangan ini, maka analisa laporan keuangan suatu bisnis dan perusahaan dapat dilakukandengan lebih detail. Sehingga pemilik bisnis dan investor memperoleh gambaran yang cukup untuk mengambil keputusan-keputusan bisnis.