Profit Sharing dan Revenue Sharing di Bank Syariah

Profit Sharing dan Revenue Sharing di Bank Syariah

Kamu mungkin ingin mengetahui perbedaan profit sharing dan revenue sharing? Sehingga dapat memilih salah satu yang lebih pas digunakan dalam kerjasama usaha yang akan kamu jalankan.

Atau ingin mengetahui manakah salah satu dari dua cara pembagian keuntungan usaha tersebut yang dipraktekkan di Perbankan Syariah?

Meskipun sama-sama digunakan dalam perhitungan bagi hasil usaha, terdapat beberapa kondisi yang sebaiknya kamu ketahui sebelum melakukan akad kerjasama usaha. Agar tidak terjadi perselisihan saat tiba waktunya pembagian keuntungan nantinya.

Setelah membaca artikel ini, kamu akan mengetahui pengertian dan juga perbedaan keduanya. Serta mekanisme pembagian khusus pada akad mudharabah di Bank Syariah.

Pengertian profit sharing dan revenue sharing

Kata profit dan revenue berasal dari bahasa inggris. Profit bermakna keuntungan sedangkan revenue berarti pendapatan. Dalam ekonomi dan investasi keduanya juga memiliki pengertian yang berbeda.

Pengertian Profit sharing dan revenue sharing

Laman investopedia.com menjelaskan perbedaan antara revenue dan profit sebagai berikut. Revenue merupakan total seluruh pendapatan atau income usaha. Sedangkan profit adalah pendapatan yang tersisa setelah dikurangi pengeluaran, hutang, dan juga biaya operasional.

Sederhananya, revenue adalah top line dan profit merupakan bottom line-nya.

Dari definisi tersebut, maka pengertian profit dan revenue sharing adalah:

  • Profit sharing adalah perhitungan bagi hasil atas sisa pendapatan usaha setelah dikurangi dengan seluruh pengeluaran dan biaya untuk memperoleh pendapatan tersebut.
  • Sedangkan revenue sharing adalah perhitungan bagi hasil atas keseluruhan pendapatan usaha sebelum dikurangi pengeluaran dan biaya-biaya

Karena itulah pemilihan mekanisme perhitungan bagi hasil perlu disepakati sebelum melakukan perjanjian kerjasama usaha menggunakan prinsip mudharabah.

Sebab jika masing-masing pihak menyepakati pembagian keuntungan 20% bagi shahibul maal dan sisanya bagi mudharib. Maka jika usaha menghasilkan keuntungan sesuai laporan laba rugi berikut:

perbedaan profit dan revenue

Maka bagi hasil porsi shahibul maal sebesar £20.000 jika dihitung menggunakan metode revenue sharing. Dan hanya £6.000 jika pakai profit sharing. Tentunya akan terjadi perselisihan antar pihak saat tiba waktu pembagian hasil usaha.

Bank Syariah: pakai revenue atau profit sharing?

Perbankan Syariah memang tidak menggunakan praktek bunga atau interest. Para pemilik tabungan, deposan atau pemegang rekening giro mudharabah akan mendapatkan pembagian keuntungan.

Dan ternyata, pola bagi hasil usaha Bank Syariah tidak menggunakan profit sharing dan revenue sharing, melainkan net revenue sharing. Hal ini sesuai arahan Majelis Ulama Indonesia pada fatwa mengenai prinsip distribusi hasil usaha dalam lembaga keuangan Syariah, no 15 tahun 2000.

MUI mendefinisikan bahwa net revenue sharing adalah pembagian keuntungan yang dihitung dari pendapatan setelah dikurangi dengan modal.

Sebab, pada setiap angsuran yang dibayarkan kreditur, terdapat bagian pendapatan bank dan pengembalian pokok pinjaman.

Ilustrasi berikut memberikan gambaran perbedaan antara revenue dan net revenue sharing

  • revenue sharing – perhitungan dari besar angsuran yang diterima
  • Net revenue sharing – pembagian keuntungan dari sisa setelah angsuran dikurangi dengan pokok pinjaman

Wajar jika pembagian keuntungan hanya atas pendapatan setelah dikurangi pokok pinjaman. Karena merupakan hasil usaha dari proses penyaluran, pencatatan dan penagihan pembiayaan yang menjadi kegiatan usaha dalam akad mudharabah antara nasabah dan bank

Bank bagi hasil

Tetapi apakah alasannya bank tidak menerapkan pola bagi hasil profit sharing? Yang oleh MUI juga boleh dilakukan.

Pertama, karena profit adalah bottom line. Maka seluruh pendapatan bank, baik itu pendapatan operasional maupun non-operasional akan digunakan menjadi dasar perhitungan pembagian keuntungan.

Dan selain pendapatan dari penyaluran pembiayaan, income bank syariah juga berasal dari fee based income, seperti pendapatan fee biaya transfer, biaya administrasi ATM dan laba rugi kurs. Jenis revenue tersebut tidak berkaitan langsung dengan penyaluran pembiayaan.

Alasan kedua adalah karena apabila bank menerapkan metode bagi untung (profit sharing), nasabah juga akan ikut menanggung seluruh biaya-biaya bank. Termasuk juga biaya yang tidak timbul dalam penyaluran pembiayaan.

Karena itulah penggunaan pola bagi hasil net revenue sharing dinilai lebih mashlahat.

Sehingga dari penerapan metode profit sharing dan revenue sharing dalam perbankan syariah, Bank Syariah sering disebut juga sebagai Bank Bagi Hasil.