5 Prinsip Mudharabah di Bank Syariah Indonesia

prinsip mudharabah

Bank Syariah menggunakan skema mudharabah pada produk penghimpunan dana, seperti tabungan atau deposito. Dan juga pada produk pembiayaan. Hal ini sesuai dengan arahan fatwa dari Majelis Ulama Indonesia 

Namun, Bagaimanakah cara penerapan prinsip mudharabah pada bank syariah? 

Sedangkan bisnis bank merupakan sesuatu hal yang baru dan tidak pernah ada pada masa kehidupan nabi Muhammad shallalahu ‘alaihi wassalam. Begitu juga pada masa tabi’in dan tabi’ut tabi’in.

Artikel ini akan membantu kamu mengenali penerapan konsep mudharabah dalam sistem perbankan. kamu juga dapat melihat aplikasinya pada beberapa contoh mudharabah yang dipraktekkan Bank Syariah di Indonesia. 

Apa itu Mudharabah?

Mudharabah adalah akad kerjasama usaha antara dua pihak yang dicirikan dengan pembagian peran yang tegas antara para pihak. Yaitu, Satu pihak sebagai penyandang dana atau pemodal. Dan pihak lainnya sebagai pengelola usaha. 

Pemisahan peran ini menjadi perbedaan akad mudharabah dengan jenis syirkah lainnya, musyarakah. Karena akad musyarakah dicirikan dengan kebolehan bagi kedua belah pihak berkontribusi sebagai pemodal. 

Akad ini baru bisa dikatakan sah apabila telah memenuhi 3 rukun mudharabah yaitu:

  • Investor (shahibul maal) yang memberikan 100% modall. 
  • Pengelola usaha (mudharib)
  • Dan kesepakatan pembagian porsi keuntungan 

Tidak harus ada kesepakatan pembagian kerugian. Sebab, jika usaha merugi maka kerugian akan ditanggung oleh pemilik modal. 

5 Prinsip Mudharabah Bank Syariah

Konsep mudharabah menjadikan bank syariah dapat menjalankan fungsinya sesuai ketentuan yang berlaku. Yaitu penghimpun dana masyarakat dan penyalur pembiayaan kepada pihak yang membutuhkan. Dengan sekaligus meniadakan prinsip bunga atau interest. 

Operasional sesuai syariah tersebut terwujud dengan menerapkan beberapa prinsip kerjasama bagi hasil berikut ini:

1. Mudharabah mutlaqah

Perjanjian Mudharabah mutlaqah adalah jenis akad mudharabah tanpa pembatasan penggunaan dana investasi dari shahibul maal kepada mudharib. 

Tabungan, giro, dan deposito syariah menggunakan prinsip ini. 

Nasabah membuka rekeningnya dan menyerahkan dana miliknya untuk dikelola dalam usaha penyaluran pembiayaan bank. Dan nasabah membebaskan bank untuk mengelola dan menempatkan dana mereka pada usaha-usaha yang menurut bank menguntungkan. 

Kemudian Bank menggunakan dana untuk kegiatan bisnis pembiayaan kepada pihak ketiga. Mulai dari pemilihan jenis usaha dan mitra usaha, penyaluran, pencatatan dan penagihan.

Nasabah tidak perlu khawatir Bank akan menyalurkan dana kepada usaha yang tidak sesuai kaidah syariah, seperti bisnis minuman keras ataupun perjudian. Sebab UU perbankan syariah no 21/2008 melarang hal tersebut. 

 Prinsip mudharabah tentang larangan bank syariah

2. Mudharabah muqayyadah

Jenis mudharabah ini adalah kebalikan dari mudharabah mutlaqah. pada mudharabah muqayyadah ada pembatasan penggunaan dana modal yang diberikan kepada mudharib dari shahibul maal. Seperti adanya ketentuan jangka waktu, tempat dan jenis usaha yang dikerjasamakan. 

Skema ini boleh dilakukan dan pernah terjadi pada masa Rasulullah shallalhu ‘alaihi wassalam. Saat itu Beliau mendengar dan membenarkan perbuatan Abbas bin Abdul Muthalib. Ketika itu Abbas menyerahkan harta mudharabah dan memberi mudharib syarat agar tidak mengarungi lautan dan menuruni lembah, serta melarangnya membeli hewan ternak. 

Contoh sederhana penerapan prinsip ini adalah pada pembiayaan bank syariah. 

Bank selaku pemberi dana biasanya akan menetapkan syarat-syarat yang harus dipenuhi oleh nasabah dalam menjalankan bisnisnya yang dibiayai dengan akad mudharabah.

Contoh mudharabah muqayyadah lainnya adalah pembiayaan syariah dari Bank Bukopin ini. Pada pembiayaan tersebut bank dapat bertindak sebagai executing agent ataupun channelling agent. 

Kamu dapat mengetahui lebih jauh tentang kedua hal tersebut dengan membaca artikel tentang mudharabah muqayyadah ini. 

3. Paralel

Salah satu fatwa MUI tentang mudharabah yang digunakan sebagai landasan operasional syariah adalah fatwa no 2/2000 tentang tabungan. Pada bagian keputusan fatwa tersebut tersirat salah satu prinsip mudharabah bank syariah, yaitu mudharabah paralel.

prinsip mudharabah bank syariah

Pengertian mudharabah paralel adalah skema mudharabah yang memungkinkan mudharib dalam suatu akad mudharabah, sekaligus bertindak sebagai shahibul maal pada akad mudharabah lainnya. 

Misal, kamu membuka deposito BRI Syariah sebesar Rp. 100 juta. Pada mudharabah pertama ini bank adalah mudharib-nya dan kamu sebagai shahibul maal. 

Kemudian bank menyalurkan pembiayaan mudharabah untuk pembiayaan proyek pengadaan barang sebesar Rp. 100 juta kepada nasabah-X. 

Sehingga pada perjanjian ini Bank yang juga merupakan mudharib perjanjian pertama, sekaligus menjadi shahibul maal pada kontrak mudharabah kedua.

4. Revenue Sharing

Bank syariah tidak menggunakan praktek bunga atau interest. Namun memberikan bagi hasil bagi para pemilik tabungan, deposan atau pemegang rekening giro mudharabah. 

Secara teori terdapat dua metode bagi hasil, yaitu profit sharing dan revenue sharing. Namun berdasarkan fatwa DSN-MUI nomor 15 tahun 2000, prinsip bagi hasil bank syariah dilakukan dengan metode net revenue sharing. 

Pendapatan bank syariah yang akan dibagi-hasilkan meliputi pendapatan margin murabahah, sewa ijarah dan pendapatan bagi hasil pembiayaan mudharabah atau musyarakah, setelah dikurangi modal.

Sedangkan pendapatan fee based income, seperti fee biaya transfer, biaya administrasi ATM atau biaya administrasi pembiayaan tidak ikut menjadi komponen bagi hasil bank syariah. 

Pada artikel ini kamu dapat mempelajari lebih lanjut mengenai perbedaan profit sharing dan revenue sharing serta prakteknya pada perbankan syariah.

5. Nisbah

Karena tidak mengunakan sistem bunga, cara menghitunh keuntungan investasi tabungan atau deposito syariah berbeda dengan deposito konvensional.

Di Bank Syariah, besar pendapatan bagi hasil yang diberikan kepada shahibul maal adalah sesuai dengan kesepakatan porsi bagi hasil atau nisbah pada saat kamu membuka rekening.

Biasanya nisbah deposito lebih besar dibandingkan nisbah produk tabungan atau giro syariah biasa. Dan semakin lama jangka waktu deposito, juga semakin besar nisbah yang bank berikan.

Guna memudahkan nasabah menghitung bagi hasil porsi mereka, sebagian bank syariah mengunakan indikator HI-1000 atau HI1000 (dibaca: H I per mil).

HI-1000 adalah angka yang menunjukkan pendapatan bank syariah dari setiap Rp. 1000 dana pihak ketiga yang mereka salurkan kedalam pembiayaan. 

Dengan mengetahui nisbah, HI-1000 dan saldo rata-rata tabungan atau deposito selama 1 bulan, maka nasabah dapat menghitung bagi hasil akad mudharabah mereka.

Dalam Pengawasan

Penerapan kelima prinsip mudharabah dalam perbankan syariah diawasi secara internal oleh komite audit, komisaris dan juga anggota Dewan Pengawas Syariah. Selain itu pengawasan eksternal dilakukan oleh Otoritas Jasa Keuangan. 

Sehingga bank benar-benar mempraktekkan mudharabah yang sesuai dengan fatwa DSN-MUI dan ketentuan yang berlaku.