4 Perbedaan Pegadaian Syariah dan Konvensional, serta Persamaannya

Perbedaan gadai syariah dan konvensional akad

Sesuai namanya, perbedaan pegadaian syariah dan konvensional sebenarnya sangat jelas. Namun, sebagian orang masih beranggapan bahwa melakukan transaksi di kedua lembaga gadai tersebut sama saja.

Anggapan yang tidak salah, meskipun tidak pula 100% tepat.

Memang terdapat banyak persamaan antara pegadaian konvensional dan syariah. Beberapa diantaranya,

  • Hak gadai berlaku atas pinjaman uang
  • Adanya agunan sebagai jaminan hutang
  • Manfaat barang yang digadaikan tidak dapat dimanfaatkan penerima gadai
  • Biaya atas barang yang digadaikan menjadi tanggungan pemberi gadai
  • Jika tidak ada pengembalian pinjaman pada saat jatuh tempo, hutang dilunasi dengan menjual atau melakukan lelang atas barang yang digadaikan

Ya, kedua lembaga keuangan tersebut memang sama-sama melakukan transaksi pinjaman, dengan syarat peminjam mengadaikan barang miliknya sebagai jaminan.

Perbedaan gadai syariah dan konvensional akad

image by entreprenomics.com

Nah, sebelum kamu memutuskan bertransaksi gadai dimana, sebaiknya cermati terlebih dahulu 4 perbedaan pegadaian secara syariah dan gadai konvensional berikut ini.

1. Pengunaan akad rahn vs perjanjian gadai

Gadai syariah dijalankan berdasarkan pada ketentuan akad rahn dalam Islam. Sedangkan gadai konvensional berdasarkan kepada ketentuan gadai.

Pengertian rahn dalam islam adalah menahan harta milik si peminjam sebagai jaminan atas pinjaman yang diberikan.

Sedangkan pengertian gadai menurut KUHP adalah hak yang diperoleh oleh pihak yang berpiutang atas suatu benda bergerak. Hak tersebut diserahkan oleh pihak yang berhutang kepada pihak yang berpiutang. Pihak yang berhutang sekaligus memberikan kekuasaan kepada pihak berpiutang tersebut, untuk mengambil pelunasan dari barang tersebut, secara didahulukan daripada pihak yang berhutang

Meskipun keduanya memiliki makna yang mirip. Namun, praktek akad rahn berbeda dengan akad gadai.

Sebab, perjanjian rahn dalam muamalah merupakan jenis akad tabarru, yaitu perjanjian muamalah atas dasar tolong menolong, tanpa mencari keuntungan dari pinjaman tersebut.

Selain itu, konsekwensi akad rahn mengharuskan pegadaian syariah menahan barang jaminan milik nasabah. Sebab, keberadaan barang jaminan mutlak diperlukan agar pemberi gadai berhak mengambil keuntungan.

Sedangkan perjanjian gadai konvensional umumnya digunakan untuk perjanjian dengan tujuan mendapatkan keuntungan atas pinjaman yang diberikan.

2. Skema multiakad vs akad tunggal

Perbedaan gadai syariah dan konvensional berikutnya berkaitan dengan bagaimana mereka mendapatkan keuntungan.

Jika akad rahn adalah perjanjian untuk tolong menolong antar sesama. Lalu, bagaimanakah pelaku bisnis gadai syariah mendapatkan keuntungan?

Caranya adalah dengan mengabungkan akad rahn bersama-sama dengan akad lainnya, sehingga menjadi satu kesatuan akad gadai syariah yang diperbolehkan dalam islam. Dalam muamalah kontemporer, perjanjian yang merupakan gabungan dari bebebapa akad dikenal sebagai perjanjian multiakad.

Pengunaan perjanjian multiakad inilah yang menghindarkan pegadaian syariah dari perbuatan melakukan macam-macam muamalah terlarang dalam Islam. Serta, memberikan kesempatan bagi pemberi gadai mendapatkan keuntungan dengan cara yang halal.

Umumnya pegadaian syariah di Indonesia mengunakan akad rahn, akad pinjaman dan akad ijarah dalam produk gadai syariahnya.

Sedangkan, produk gadai konvensional hanya dijalankan berdasarkan satu akad saja. Yaitu perjanjian pinjaman yang mensyaratkan adanya tambahan pengembalian, diluar pokok pinjaman yang diberikan.

3.Membayar beban biaya, bukan bunga sewa modal

Pendapatan pegadaian konvesional berasal dari bunga pinjaman yang dibebankan kepada nasabah. Penerapan skema bunga atas pinjaman ini merupakan salah satu dari macam-macam riba, yang terlarang dalam muamalah.

Praktek berbeda diterapkan oleh pegadaian syariah.

Alih alih membebankan biaya bunga sewa modal atas pinjaman yang diberikan. Pegadaian syariah memberikan pinjaman qardul hasan. Yaitu, pinjaman dengan ketentuan pengembalian sebesar pokok pinjaman yang diterima nasabah. Tidak ada bunga pada gadai syariah.

Sebagai sumber pendapatan, pegadaian syariah menyediakan jasa pemeliharan, jasa penjagaan, biaya penitipan dan biaya penaksiran. Mereka memperoleh ujroh atas akad ijarah yang dilakukannya dengan nasabah.

Umumnya, nasabah membayar ujroh atas jasa dan biaya tersebut pada awal perjanjian. Tidak seperti gadai konvensional yang membebankan bunga pinjaman yang dapat berakumulasi dan berlipat ganda.

Perbedaan pegadaian konvensional dan syariah lainnya adalah penetapan bunga sewa modal gadai konvensional dihitung berdasarkan besaran pinjaman yang diberikan.

Sedangkan perhitungan biaya gadai syariah diperhitungkan berdasarkan harga taksiran benda yang digadaikan.

4. Mengadaikan semua barang, bukan hanya barang tertentu

Salah satu dampak pengunakan akad rahn adalah memungkinkan pegadaian syariah mempunyai produk yang tidak dimiliki oleh gadai konvensional.

Sebab, sesuai KUHP, definisi gadai memberikan batasan pengunaan akad gadai hanya untuk benda bergerak, seperti barang elektronik, emas dan kendaraan.

Gadai mobil syariah dan konvensional

image by bestride.com

Sedangkan pengunaan akad rahn dalam islam berlaku untuk semua jenis barang,yaitu benda bergerak maupun tak bergerak, seperti sertifikat tanah.

Oleh karena itu, produk pegadaian syariah seperti Rahn Tasjily Tanah tidak dapat dilakukan pada pegadaian konvensional.

Contoh kasus perbedaan pegadaian syariah dan konvensional

Agar semakin mudah memahaminya, perhatikan contoh transaksi gadai dan perhitungan pegadaian syariah dan konvensional berikut ini.

Misal, Fulanah hendak melakukan gadai barang dengan nilai taksiran barangnya seharga Rp. 5 juta.

Jika mengunakan pegadaian konvensional. Pegadaian akan memberikan uang pinjaman sebesar Rp. 4,6 juta (92% x Rp. 5 juta). Dengan besar biaya sewa modal selama 15 hari sebesar Rp. 55.200 (1,2% x Rp. 4,6 juta).

Sehingga, setelah 15 hari Fulanah harus melunasi sewa modalnya sebesar Rp. 4.655.200 . Lebih besar dari pokok hutang yang diterimanya, Rp. 4,6 juta. Transaksi ini merupakan contoh riba qardh.

Sedangkan jika fulan melakukan akad gadai dengan lembaga keuangan syariah, maka Fulanah dapat terhindar dari riba.

Pegadaian syariah akan memberikan qardh sebesar Rp. 4,6 juta (92% x  nilai taksiran). Lalu, penerima pinjaman memberikan barangnya untuk ditahan sebagai jaminan. Dan membayar ujroh biaya pemeliharan selama 10 hari sebesar Rp. 35.000 (0.7% x Nilai taksiran)

Sehingga, setelah 10 hari Fulanah mengembalikan pinjaman, sebesar Rp. 4.6 juta. Tanpa ada kelebihan pembayaran.

Kesimpulannya, meskipun sama-sama memberikan pinjaman, namun perbedaan pegadaian syariah dan konvensional sangat terang benderang. perbedaan tersebut meliputi akad perjanjian, cara menentukan biaya gadai dan operasional pegadaian.