[ADINSERTER AMP]

Pengertian dan contoh akad mudharabah untuk bagi hasil usaha

Selain akad nikah, akad mudharabah juga sering diperbincangkan, khususnya dalam pembahasan ekonomi syariah. Karena skema mudharabah merupakan penganti akad pinjaman pada produk lembaga keuangan syariah.

Meskipun merupakan kata dari bahasa arab, namun praktek mudharabah telah lazim dilakukan. Salah satu contoh mudharabah dalam kehidupan sehari-hari adalah pola kerjasasama usaha sistem bagi hasil yang kerap diterapkan para pebisnis di Indonesia sejak zaman dulu. Praktek mudharabah juga memiliki kesamaan dengan contoh akad musyarakah dalam kehidupan sehari-hari.

pengertian akad mudharabah
source – suaramuhammadiyah.id

Pengertian mudharabah

Dahulu, akad Mudharabah disebut juga sebagai Qiradh. Yaitu kata dari bahasa arab yang berarti memotong. Sebab pada praktek mudharabah, pemilik modal memotong sebagian hartanya untuk diberikan kepihak lain yang mengusahakannya guna memperoleh keuntungan.

Selain itu  pengertian mudharabah juga disebut dengan kata dharb. Kata tersebut memiliki arti memukul. Maksudnya adalah pihak yang menerima dana memukulkan kakinya untuk berjalan menjalankan usahanya. Sebab, dahulu mata pencarian utama penduduk mekkah adalah sebagai petani, peternak dan pedagang, yang membutuhkan aktivitas fisik seperti berjalan.

Secara sederhana, Pengertian mudharabah yang mudah dipahami adalah kerjasama usaha antara dua pihak dengan ketentuan bagi hasil atas keuntungan usaha dan bagi rugi jika ada kerugian usaha.

Sedangkan pengertian mudaharabah menurut ahli, seperti yang tertulis pada fatwa DSN-MUI No. 07 tahun 2000 adalah sebagai berikut:

Definisi mudharabah adalah akad kerjasama suatu usaha antara dua pihak. Pihak pertama menyediakan seluruh modal (disebut sebagai shahibul maal / LKS), dan pihak kedua bertindak selaku pengelola (disebut sebagai ‘amil / mudharib / nasabah). Dengan ketentuan keuntungan usaha dibagi di antara para pihak sesuai kesepakatan yang dituangkan dalam kontrak kerjasama.

Dalil mudharabah

Pelaksanaan akad mudharabah dalam praktek ekonomi islam sangat bergantung kepada tingkat kepercayaan. Karena pemilik modal tidak dibenarkan ikut mengurusi kegiatan usaha yang dijalankan pengelola. Kecuali untuk kegiatan pengawasan seperti yang dipersyarakatkan didalam kontrak.

Karakteristik ekonomi syariah yang ditampakkan pada beberapa dalil mudharabah, menjadi dasar hukum berlakunya praktek mudharabah.

  • QS. Al-Baqarah ayat 283 – … maka jika sebagian kamu mempercayai sebagian yang lain, hendaklah yang dipercayai itu menunaikan amanatnya dan hendaklah ia bertakwa kepada Allah Tuhannya…
  • Hadis Riwayat Thabrani dari Ibnu Abbas – Diceritakan bahwa Abbas bin Abdul Muthallib saat menyerahkan harta sebagai mudharabah. Beliau memberikan syarat kepada pengelola harta tersebut agar tidak mengarungi lautan dan tidak menuruni lembah, dan juga tidak membeli hewan ternak. Jika persyaratan tersebut dilanggar oleh pengelola, maka mudharib sebagai pengelola harus menanggung resikonya. Saat persyaratan itu didengar Rasulullah, beliau membenarkannya.
  • Hadist Riwayat Ibnu Majah dari Shuhaib – Terdapat tiga hal yang mengandung keberkahan. Yaitu jual beli (yang dilakukan) tidak secara tunai, muqaradhah (mudharabah), dan mencampur gandum dengan jewawut untuk kebutuhan rumah tangga, bukan untuk dijual.
  • Ijma’ –  Beberapa sahabat pernah menyerahkan harta anak yatim kepada orang lain atau mudharib sebagai mudharabah dan tak ada seorang pun mengingkari mereka. Sehingga hal ini disimpulkan sebagai sebuah ijma’.
  • Qiyas – Transaksi mudharabah dapat diqiyaskan kepada transaksi musaqah.

Rukun dan Syarat Mudharabah

Sesuai kaidah syariah, setiap aktivitas yang dilakukan memiliki faktor penentu yang harus ada dan terpenuhi dalam transaksi.

Begitu juga dalam akad mudharabah. Artikel pilar penting sistem bagi hasil dibahas lebih rinci mengenai rukun mudharabah.

Berikut ini adalah penjelasan ringkas rukun mudharabah
  • Pelaku akad – minimal ada dua pihak, yaitu satu pihak sebagai shahibul maal (pemilik dana) dan pihak yang pandai mengelola bisnis tapi tidak memiliki modal sebagai pengelola dana (mudharib).
  • Objek akad – ada 3 unsur objek akad yang harus terpenuhi, yaitu kerja (dharabah), keuntungan (ribh) dan modal (maal).
  • Shighah – adalah ucapan atau perbuatan ijab dan qabul antar para pihak yang melakukan akad mudharabah.

Sedangkan beberapa syarat mudharabah adalah sebagai berikut:

  1. Pihak yang bertransaksi haruslah mereka yang cakap hukum dan berakal
  2. Modal mudharabah harus berupa uang, jelad dan diketahui jumlahnya.
  3. Modal harus tunai bukan berupa hutang kepada pihak pengelola, dan harus diserahkan kepada mudharib.
  4. Keuntungan harus jelas ukurannya (biasanya dalam prosentase) dan harus dengan pembagian yang disepakati kedua belah pihak
  5. Kerugian ditanggung sesuai dengan porsi modal yang diserahkan.

 

Jenis jenis mudharabah

Praktek akad mudharabah memberikan kemudahan bagi pihak yang kelebihan dana untuk memperoleh keuntungan melalui investasi kepada pihak yang membutuhkan dana.

Pada pelaksanaannya, jenis mudharabah dapat dilakukan dengan dua cara berbeda. Hal ini disampaikan oleh tokoh ulama terdahulu, Imam Abu Hanifah dan Imam Ahmad. Kedua ulama tidak mensyaratkan bahwa mudharabah harus mutlak, namun juga boleh terikat.

1. Mudharabah mutlaqah

Mudharabah Mutlagah adalah jenis kerjasama antara pemilik modal dan pengelola usaha, tanpa ada batasan ketentuan usaha dari pemilik modal, sehingga disebut juga sebagai akad mudharabah tidak terikat.

Sesuai dengan sifatnya yang tanpa batasan, maka pengelola usaha diberikan kebebasan menentukan jenis dan cara usaha yang akan dilakukan untuk memperoleh keuntungan.

Salah satu contoh mudharabah mutlaqah adalah kerjasama antara nasabah penabung dengan bank, melalui produk tabungan, giro, dan deposito syariah.

2. Mudharabah Muqayadah

Jenis kerjasama ini adalah kebalikan dari mudharabah mutlagah, karena  pada jenis akad mudharabah ini, shahibul maal (pemilik dana)  menentukan usaha yang akan dilakukan oleh pengelola. Sehingga pengelola terikat dengan batasan yang diberikan oleh pemilik dana.

Contoh mudharabah muqayadah adalah jika sebuah perusahaan ingin memberikan bantuan produktif kepada warga binaan, namun membutuhkan peran lembaga keuangan sebagai penyalur dan pengelola. Maka perusahaan tersebut dapat melakukan perjanjian mudharabah muqayadah dengan pihak lembaga keuangan syariah.

Pada prakteknya, pelaksanaan akad mudharabah muqayadah oleh LKS dapat dilakukan dengan dua cara berbeda, yaitu dengan pola channeling dan executing.

Berikut adalah jenis mudharabah muqayadah
  • Mudharabah Muqayadah On balance Sheet – adalah pola executing. Dilakukan setelah pemodal menetapkan syarat akad mudharabah, dan para pihak telah menyepakati syarat serta pembagian keuntungan usaha. Kemudian dana milik pemodal yang telah diserahkan kepada LKS, dipisahkan dari kelompok dana mudharabah tidak terikat dan dibuatkan bukti investasi khusus. Dengan cara ini, maka setoran dana pemodal dan pembiayaan dicatat didalam laporan neraca keuangan bank, sehingga disebut mudharabah muqayadah on balance sheet.
  • Mudharabah Muqayadah off balance sheet – merupakan praktek akad mudharabah dengan skema channeling. Sebab, penyaluran dana langsung dari shahibul maal kepada nasabah, sehingga tidak ada catatan pembiayaan nasabah oleh bank. Pada jenis mudharabah ini bank menerima komisi dan bank melakukan pencatatan pada rekening administrasi, bukan pada neraca keuangan bank. Sehingga akad ini disebut mudharabah muqayadah off balance sheet.

Selain dua jenis akad mudharabah ini, terdapat juga jenis mudharabah musytarakah. jenis mudharabah tersebut umum digunakan perusahaan asuransi, guna memberikan manfaat asuransi syariah yang lebih besar kepada peserta asuransi.

Contoh mudharabah

Aplikasi akad mudharabah dalam kehidupan sehari-hari mudah untuk dilakukan. Tak heran ada beberapa bentuk skema mudharabah. Berikut ini adalah macam-macam mudharabah:

1. Mudharabah bilateral

Bentuk mudharabah ini adalah akad mudharabah antar dua pihak saja. Yaitu satu pihak sebagai shahibul maal dan satu pihak lainnya bertindak sebagai mudharib. Bentuk mudharabah ini juga merupakan mudharabah klasik, yang sudah dipraktekkan sejak awal-awal masa Islam, oleh para sahabat dan tabiin.

Contoh mudharabah bilateral adalah shahibul maal yang bermitra dengan mudharib untuk usaha konveksi selama 6 bulan. Shahibul Maal memberikan uang untuk modal usaha sebesar Rp. 10 juta. Dan kedua belah pihak sepakat dengan nisbah bagi hasil 30:70 (40% keuntungan untuk shahibul maal).

Setelah mudharib menjalankan usaha selama 6 bulan, modal usaha telah berkembang menjadi Rp. 20 juta, sehingga diperoleh keuntungan sebesar Rp. 10 Juta (Rp. 20 juta – Rp. 10 Juta).Maka, shahibul maal berhak mendapatkan keuntungan sebesar Rp. 3 Juta (30% x Rp. 10 juta). Dan sisanya sebesar Rp. 7 juta menjadi hak mudharib.

2. Mudharabah multilateral

Pada bentuk mudharabah ini, shahibul maal dapat lebih dari 1 pihak, sedangkan mudharib (pengelola usaha) hanya satu pihak.

Mengunakan contoh kasus pada mudharabah bilateral sebelumnya. Maka contoh mudharabah multilateral adalah jika shahibul maal dari mudharib dalam usaha konveksi tadi terdiri dari 2 orang. Shahibul maal pertama menyerahkan dana Rp. 4 Juta dan shahibul maal kedua sebesar Rp. 6 juta. Sehingga porsi kepemilikan dananya adalah 40:60.

Perhitungan bagi hasil dilakukan dengan terlebih dahulu menghitung bagian pendapatan keuntungan shahibul maal. Setelah itu, keuntungan untuk masing-masing shahibul maal dibagi berdasarkan proporsi modal yang disetorkan.

Sehingga, jika bagian shahibul maal pada contoh mudharabah sebelumnya adalah Rp. 10 Juta. Maka keuntungan untuk shahibul maal pertama adalah  Rp. 4 Juta (40% x Rp. 10 juta). Dan bagian shahibul maal kedua sebesar sisanya.

3. Mudharabah bertingkat

Mudharabah bertingkat atau re-mudharabah adalah bentuk mudharabah antara 3 pihak. Yaitu satu pihak sebagai shahibul maal, pihak kedua bertindak sebagai mudharib antara dan pihak terakhir sebagai mudharib akhir.

Contoh mudharabah bertingkat adalah jika pada contoh kasus usaha konveksi pada mudharabah bertingkat sebelumnya, shahibul maal membutuhkan pihak lain untuk mengetahui kelayakan dan kemampuan mudharib dalam menjalankan usaha hingga meraih keuntungan.

Untuk itu, Shahibul maal membuat akad mudharabah dengan mudharib antara dengan kesepakatan nisbah bagi hasil sebesar 50:50 (50% keuntungan untuk mudharib antara). Dan jangka waktu selama 6 bulan.

Mudharib antara kemudian membuat perjanjian mudharabah dengan mudharib akhir yang akan mengelola usaha konveksi, dengan jangka waktu selama 6 bulan. Dengan nisbah bagi hasil sebesar 30:70 (30% untuk mudharib antara).

Pada Akhir masa akad mudharabah, jika keuntungan mudharib akhir adalah Rp. 10 Juta, maka bagian keuntungan mudharib antara adalah Rp. 3 juta (30% x Rp. 10 juta).

Pendapatan mudharib antara harus dibagi dengan shahibul maal sebesar perjanjian nisbah yang disepakati. Sehingga shahibul maal memperoleh pendapatan bagi hasil sebesar Rp. 1.5 juta (50% x Rp. 3 juta).

Pilih yang sesuai kebutuhan

Sebagai salah satu dari macam-macam syirkah dalam islam, Beragam jenis mudharabah memberikan kemudahan bagi setiap orang untuk memenuhi hajat atau kebutuhan bisnisnya. Selain itu rukun dan syarat  mudharabah mudah untuk dipenuhi oleh para pihak yang melakukan kerjasama usaha..

Sehingga setiap pihak yang membutuhkan investor untuk modal usaha dan pemilik modal yang berinvestasi dapat mengunakan akad mudharabah untuk bekerja sama usaha.

Alternatif macam-macam mudharabah telah tersedia. Pilihlah yang paling sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan usaha, agar memperoleh hasil maksimal dan terhindar dari jenis-jenis riba dalam aktivitas muamalah sehari-hari.

Bagikan artikel ini,

One Comment

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.