Maqashid syariah – Solusi Memahami Perintah dan Larangan dalam Islam

Meskipun terlahir Islam, sebagian umat terkadang terkaget-kaget saat mengetahui larangan atau perintah dalam agamanya. Apakah kamu pernah mengalaminya? Jika pernah merasakan hal yang sama, bisa jadi berkenalan dengan ilmu maqashid syariah menjadi solusi bagimu.

Ilmu maqashid memberi pemahaman mengenai apa saja maksud dan tujuan pada setiap syariat. Sehingga kamu akan memahami siapakah penerima manfaat dari ketaatan terhadap syariat yang kamu upayakan itu, apakah untuk Allah subhanahu wa ta’ala atau kamu?

Memang, ilmu ini lebih sering muncul dalam pembahasan di kalangan akademisi. Biasanya menjadi topik pada diskusi atau penelitian mengenai ekonomi Islam atau keuangan syariah.

Walaupun sebenarnya ilmu ini meliputi semua aspek kehidupan manusia. Baik aqidah, muamalah, ibadah, maupun akhlak. Bahkan juga berperan dalam kehidupan bernegara. Seperti yang dijalankan oleh pemerintahan di negara Malaysia. 

Belakangan, para ulama semakin banyak mengunakan pendekatan maqasid saat memberikan panduan bagi umat. Syeikh Ali jaber mengunakan pendekatan maqashid saat menjelaskan pentingnya masyarakat dirumah saja pada masa PSBB. Begitu juga Majelis Ulama Indonesia melalui maklumat MUI mengenai new normal.

Penerapan Maqashid syariah oleh MUI

Lalu, apa sih maqashid syariah itu ? bagaimana sejarahnya? benarkah merupakan sesuatu hal yang baru? Bagaimana pembagian dan tingkatannya? Serta bagaimana pula cara mempraktekkannya dalam kehidupan sehari-hari? 

Bagi kamu yang baru mengenalnya, artikel inilah yang kamu butuhkan.

Awalnya

Konsep maqashid bukanlah sesuatu kebaruan dalam Islam. Melainkan telah ada sejak masa sahabat masih mendengar langsung dari Rasulullah shallahi ‘alaihi wassalam. Hanya saja waktu itu belum diberikan penamaan khusus. 

Dahulu, pernah khalifah Umar bin Khattab RA  memutuskan qisas bagi lima pelaku pembunuhan. Padahal hanya adat dalil Al-Quran mengenai pembunuhan yang dilakukan sendirian. 

QS. Al Baqarah 178

QS. Al Baqarah 178

Khalifah Umar RA mustahil membuat hal-hal baru, tanpa beliau pernah mendengar atau mengetahui hal tersebut sesuai tuntunan syariah.

Memang beliau bukanlah nabi. Namun, Umar bin Khattab RA merupakan salah seorang yang telah memperoleh jaminan surga. Rasulullah shallahi ‘alaihi wassalam juga memberinya julukan Al-Faruq, sebab beliau bisa memisahkan antara kebenaran dan kebatilan.

Para ulama menyampaikan bahwa alasan al-Faruq memutuskan demikian adalah karena beliau mengetahui tujuan dari syariat qisas. Yaitu sebagai penjagaan terhadap nyawa manusia. Khalifah mengkawatirkan jika tidak menerapkan hukum qisas kepada pembunuhan beramai-ramai, maka tujuan pensyariatan qisas tidak tercapai. 

Seiring berkembangnya ilmu pengetahuan Islam, para ulama klasik turut membahas maqashid pada karya mereka.

Al-Juwaini dan al-Ghazali yang menyinggung penerapan ilmu maqasid pada kitabnya, walaupun hanya sebatas sub-bab. Adalah Imam As-syattibi yang memperkenalkan format utuh dari konsep maqashid syariah. Beliau menjelaskan secara rapi dan terstruktur melalui kitab fenomenalnya, al-Muwafaqat fi ushul al-Ahkam.

Banyak digunakan ulama malikiyah

Awalnya ilmu maqasid lebih populer di kalangan mazhab malikiyah. Para ulama dari mazhab yang awalnya lahir di Madinah ini, menggunakan konsep maqashid secara masif. Salah satu contohnya adalah pengunakan maqashid syariah dalam jual beli. 

Menurut ulama malikiyah jual beli tanpa ijab kabul hukumnya adalah boleh mutlak. Padahal ijab kabul merupakan salah satu dari rukun jual beli, yang jika tidak terpenuhi menyebabkan jual beli menjadi batil atau fasad

Alasan para ulama malikiyah berpendapat boleh mutlaknya jual beli tanpa ijab kabul adalah karena sudah biasa dilakukan oleh masyarakat. Karena itu kondisi transaksi tanpa ijab kabul menjadi lebih mudah dan lebih dekat dengan tujuan dari syariat jual beli.

Contoh maqashid syariah dalam jual beli

Pendapat ini berbeda dengan pandangan ulama dari mazhab syafi’i, yang tidak membolehkan.

Begitu juga mazhab hanafi dan hambali. Meskipun beranggapan boleh, mereka memberikan syarat tertentu, seperti harga yang telah diketahui dan tidak ada tanda ketidaksetujuan antar pihak.

Pengertian maqashid syariah

Salah satu definisi yang kerap disampaikan adalah tujuan atau maksud dari suatu perintah atau larangan dalam ajaran Islam.

Agar memperoleh pemahaman lebih baik, sebaiknya kamu juga mengetahui pengertiannya maqashid syariah secara bahasa dan istilah menurut para ulama ahli fiqih.

Makna per kata

Terdiri dari kata maqashid dan syariah, Kata gabungan ini merupakan serapan bahasa arab.

Kata maqashid merupakan bentuk jamak dari maqshid atau maqshad. Keduanya masdhar, yaitu kata dasar pembentuk kata kerja, atau perbuatan (fi’il). Adapun bentuk fi’il-nya adalah qashada.

Kata qashada terdapat beberapa kali dalam Al-Quran. Alhamdulillah, para mujtahid terdahulu telah memberikan penjelasan mengenai beberapa makna qashada tersebut. Beberapa diantaranya:

  • At-Qurthubi (w. 671 H) menyebutkan makna qashidan dalam Qs. At-Taubah ayat 42 sebagai jalan yang mudah dan diketahui.
  • Dan at-Thabari (w 310 H) menyebutkan makna al-qashdu pada Qs. An-Nahal ayat 9 sebagai meluruskan jalan yang lurus yang tidak ada belokan padanya.

Sedangkan kata syariah berasal dari kata bahasa arab syara’a yang memiliki makna sumber air yang tidak pernah putus dan terus menerus mengalir. Atau juga bermakna menerangkan serta menunjukkan jalan.

Adapun secara istilah, Ibnu Taymiah (w. 728H) menyampaikan bahwa syara’ maupun syir’ah dalam ilmu fiqih adalah terkait dengan semua yang ditetapkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala baik aqidah ataupun amal perbuatan.

Sehingga secara umum maqashid syariah merupakan makna dan tujuan yang dikehendaki oleh Allah subhanahu wa ta’ala dalam mensyariatkan sesuatu hukum umat manusia.

Tujuan syariat dalam islam

Definisi ulama fikih 

Sebagai sebuah ilmu dalam keilmuan Islam, pengertian maqashid syariah baru ada dalam karya-karya ulama modern seperti Ibnu Aysur, Ar-Raisuni atau Wahbah Az-Zuhaili.

Hal ini karena pada periode sebelumnya konsep ini belum menjadi suatu disiplin ilmu tersendiri. Karena itu belum perlu dijelaskan maknanya bagi kalangan luas. Bahkan As-syattibi yang dikenal sebagai  penemu format maqashid syariah juga tidak menuliskan definisi secara detail. 

Murid beliau, Al-Raisuni, menyampaikan alasan tidak adanya definisi yang tegas dan jelas adalah karena kitab “Al-Muwafaqat”  ditulis untuk kalangan ulama saja. Sedangkan pada masa itu, ulama sudah memahami definisi masalah tersebut dengan terang benderang.

Seiring perkembangan zaman, para ulama yang mendalami hal ini merasa penting untuk memberikan definisi umum. Agar memudahkan umat mempelajari serta memahami ilmu maqasid. 

Beberapa definisi umum dari para ulama modern berikut ini dapat membantumu memahami apa sih pengertian maqashid syariah itu.

  • Ibnu Asyur – Sejumlah makna dan hikmah yang disimpulkan bagi pembuat syariah pada semua syariah atau sebagian besarnya.
  • Ar-Raisuni  – Tujuan-tujuan yang ditetapkan oleh syariah demi untuk kemaslahatan hamba
  • Wahbah Az-Zuhaili – Makna serta sasaran yang disimpulkan pada semua hukum atau pada kebanyakannya, atau tujuan dari syariat. Serta rahasia-rahasia yang ditetapkan Allah subhanahu wa ta’ala pada setiap hukum dari hukum-hukum-Nya.

Bagaimana mereka mendefinisikannya

Pada sebuah ceramahnya, Dr Taufiq hulaimi, yang merupakan seorang doktor ahli fikih dari Indonesia, menyampaikan bagaimana para ulama fiqih memahami maqashid.

Menurut beliau para fukaha memiliki hafalan ratusan ribu hadist dan tentunya hafalan Al-quran.

Quran sumber hukum Islam

Para fukaha melakukan proses pengamatan berulang-ulang atas hukum syariat yang terdapat dalam kedua sumber hukum Islam utama tersebut. Mereka kemudian menyimpulkan bahwa maqashid syariah adalah makna yang menonjol yang ada pada setiap hukum dan menjadi sebab disyariatkannya hukum.

Pengamatan mereka menghasilkan bermacam corak dan versi maqashid. Namun pada umumnya terdapat kesamaan pemahaman mengenai tujuan dari setiap syariat Islam, yaitu untuk mewujudkan maslahah dan menghindarkan mafsadah. Sehingga tak jarang sebagian ulama berpendapat bahwa substansi dari maqashid syariah adalah merealisasikan kemanfaatan atau maslahah bagi umat manusia. 

Selain itu juga terdapat kesamaan dalam menentukan tingkatan dan pembagian maqashid.

Pengelompokkannya

Mayoritas para fukaha tersebut mengelompokkan maqasid menjadi tiga tingkatan. Urutan tersebut menunjukkan prioritas dalam mewujudkan maslahah dan menjauhkan keburukan (mafsadah) bagi kehidupan manusia.

Adapun tingkatan maqashid tersebut adalah dharuriyat, hajiyat, dan tahsiniyat. Sekilas mirip dengan pengelompokkan kebutuhan primer, sekunder dan tersier dalam kehidupan sehari-hari. Kamu dapat memahami pengertian dan contohnya berikut ini:

1. Dharuriyyat

Merupakan prioritas tertinggi dari maqashid syariah. Dharuriyyat memiliki karakteristik harus terpenuhi. Jika tidak terpenuhi dapat menyebabkan kesulitan kehidupan baik di dunia maupun di akhirat nantinya. Tak jarang sebagian ulama berpendapat bahwa tanpa pemenuhan dharuriyat akan menyebabkan keadaan manusia tak jauh berbeda dengan kehidupan hewan.

Contoh maqashid tingkat dharuriyyat adalah perintah sholat. Allah subhanahu wa ta’ala memberikan perintah shalat, karena sholat merupakan tiangnya agama. Tanpa menjalankan ibadah sholat maka agama yang kamu peluk tidak dapat tegak. Dan kamu tidak terpelihara dari perbuatan buruk.

Contoh maqashid dharuriyyat - sholat

2. Hajiyat

Al-hajiyat merupakan kepentingan yang memberikan kemudahan bagi manusia, baik dalam hal ibadah maupun muamalah. Pemenuhan maslahat hajiyat akan menghindarkan kesempitan dan kesukaran, namun apabila tidak terpenuhi juga tidak menyebabkan kebinasaan.

Contoh tingkatan maqashid ini adalah perintah dan larangan yang hukum fiqihnya mubah. Begitu juga hukum yang berkaitan dengan keringanan atau ruksah. Seperti kebolehan sholat jama’ dan qasar bagi musafir. Serta bolehnya tidak berpuasa ramadhan bagi mereka yang sakit.

3. Tahsiniyyat

Urutan terakhir ini merupakan maslahat pelengkap. Keberadaannya memberikan kesempurnaan bagi kehidupan manusia. Apabila belum terpenuhi tidak menimbulkan kesulitan dalam kehidupan manusia, namun menimbulkan kesan perilaku atau kehidupan yang tidak elok dalam pandangan manusia berakal.

Umumnya syariat yang berkaitan dengan arahan untuk menunjukkan akhlak dan etika yang mulia termasuk dalam klasifikasi tahsiniyyat. Begitu juga sebagian hukum-hukum yang berkaitan dengan muamalah.

Misal, syariat untuk mengunakan pakaian yang bagus dan wangi-wangian selama berada di masjid bagi pria. Dan juga larangan melakukan transaksi jual beli untuk barang yang tidak bermanfaat atau mendatangkan mudharat.

Pemenuhan ketiga tingkatan ini mendorong setiap hamba untuk mengupayakan ikhtiar terbaik dalam menjalankan setiap perintah Agama semampunya. Tidak mengapa jika kamu belum mampu untuk sempurna dalam beribadah, namun  jika ingin lebih baik, Allah subhanahu wa ta’ala juga telah menyiapkan jalan bagi mereka yang hendak beribadah dengan sempurna. 

5 Macam maqashid syariah

Kamu mungkin sudah membaca maklumat new normal yang diterbitkan oleh majelis ulama Indonesia. Pada pengkajian mengenai aspek penanggulangan pandemi COVID-19, MUI menyampaikan 5 macam maqashid syariah. 

Macam-macam maqashid syariah

5 macam maqashid syariah

Kelima macam maqashid ini dikenal juga dengan nama al-khuliyyah al-khamsah atau disebut juga ad-dharuriyyah al-khamsah. Apa saja kelima hal tersebut, dan bagaimana contohnya dalam kehidupan sehari-hari. Yuk cermati lebih lanjut.

1. Memelihara atau menjaga Agama

Agama dari Allah subhanahu wa ta’alla telah diajarkan oleh para nabi-nabi sebelum Rasulullah shallahi alaihi wasallam. Itulah sebabnya salah satu rukun iman adalah percaya kepada nabi dan rasul. Sehingga pada dasarnya syariat Islam bertujuan untuk menjaga eksistensi semua agama yang dibawa oleh para nabi. 

Hal ini dapat ditemukan pada dua dalil dalam Al-quran berikut ini:

  • Qs. Al-Hajj ayat 40 – Dan sekiranya allah tidak menolah (keganasan) sebagian manusia dengan sebagian lain, tentulah telah dirobohkan biara-biara Nasrani, gereja-gereja, rumah ibadat orang Yahudi, dan masjid-masjid yang didalamnya banyak menyebut nama Allah.
  • Qs. Al Baqarah ayat 256 – tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam)

Dari dua dalil mengenai penjagaan agama tersebut dapat dipahami bahwa Islam megajarkan tolerasi antara pemeluk agama. Dan menghindarkan antara pemeluk agama untuk saling menghancurkan. 

Memang, syariat islam meyakini bahwa Islam adalah jalan kehidupan yang seharusnya dipilih oleh setiap insan. Karena Allah subhanahu wa ta’ala menyatakan pada akhir ayat Qs Al-Baqarah 256, bahwa telah jelas jalan yang benar dari pada jalan yang sesat. 

Dalil Maqashid Syariah Menjaga Agama

Al-Baqarah 256

Adapun cara Islam membuktikan sebagai agama yang haq adalah dengan mengajak manusia untuk berpikir, bukan dengan paksaan. Karena itulah, tujuan maqashid adalah adalah menjaga akal. Agar akal selalu sehat dan prima untuk memikirkan ayat-ayat ilahi, baik yang tersurat maupun tersirat.

Dan bagi pemeluknya, menjaga agama terwujud dalam  upaya untuk menjaga amalan wajib seperti shalat, puasa dan zakat serta zikir dan sebagainya serta bersikap melawan ketika agama Islam dihina dan dipermalukan. 

2. Menjaga Jiwa

Syariat islam menjamin hak hidup bagi setiap nyawa manusia, dan tidak terbatas bagi pemeluknya saja. Karena itulah sering kita mendengar cerita bahwa pada saat pasukan Islam memenangi pertempuran, maka tidak ada pembantaian ataupun pengusiran. Jika saat perang saja seperti itu adanya, bagaimana pula pada saat kondisi aman. 

Maka aneh jika saat saat ini umat islam diserang dengan stigma yang tidak baik. Dan sebagai muslim sebaiknya kita lebih kritis bila propaganda tersebut sampai ditelinga kita. Sebab syariat islam menuntut adanya penjagaan terhadap jiwa. Seperti yang tampak pada dua dalil berikut:

  • Qs. Al-Maidah ayat 32 – barang siapa memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya.
  • Qs. Al-Baqarah ayat 179 – dalam hal qisas itu ada (jaminan kelangsungan) hidup bagimu, hai orang-orang yang berakal, supaya kamu bertakwa

Salah satu contoh penerapan tujuan maqashid menjaga Jiwa ini adalah penetapan hukum qisas yang diterapkan khalifah umar bagi lima orang pelaku pembunuhan. Meskipun hanya ada dalil untuk pembunuhan satu orang. Untuk menjaga nyawa, al faruq memutuskan kelima pelaku tersebut mendapat hukuman qisas.

3. Memelihara akal

Allah subhanahu wa ta’ala kerap menyeru kepada orang-orang yang berakal pada kalam-Nya dalam Al-quran. 

Karena itulah Akal, selain menjadi pembeda antara manusia dengan jenis makhluk lainnya, juga penting bagi kemampuan insan melakukan penjagaan terhadap kelima maslahat umum bagi kehidupannya. Hifdzun ad-diin, Hifdzun an-nafs, Hifdzun Aql, Hifdzun Nasl, Hifdzun Maal

Aturan dan larangan Islam mengenai penjagaan akal salah satunya tampak pada larangan tentang khamar dan judi pada Qs. Al-Baqarah ayat 219. Meskipun kedua hal tersebut ada manfaatnya, namun manfaatnya tidak lebih besar dibandingkan dosa dan kerusakannya. 

Selain itu syariat islam menganjurkan agar pemiliknya tidak hanya beriman, melainkan juga berilmu. Karena itulah Allah subahahu wa ta’ala menjanjikan dalam Qs. Al-Mujadalah ayat 11, bahwa mereka yang beriman dan berilmu akan ditinggikan derajatnya di dunia maupun akhirat.

Tujuan maqashid menjaga akal

Al-Mujadalah 11

Jadi selain menjaga dari hal yang dapat merusak atau mengacaukan akalnya. Setiap muslim juga merawat akal dengan memberinya asupan ilmu. Dan sebaik-baiknya ilmu adalah ilmu yang membuat kita semakin dekat dengan Agama.

4. Memelihara keturunan

Aturan mengenai pernikahan dan larangan zina merupakan contoh dari tujuan syariat menjaga nasab. Agama Islam tegas melarangnya dan bahkan hukumannya langsung diberikan oleh Allah subhanahu wa ta’ala pada Qs. An-nuur ayat 2 mengenai hukum rajam dalam Islam.

Coba saja kamu bandingkan dengan hewan, kucing misalnya. Jika tidak ada syariat islam yang bertujuan untuk menjaga keturunan. Bisa-bisa nasab manusia dihasilkan dari cara kucing berkembang biak. Atau malah berada pada tingkatan di bawahnya, sebab belum pernah ada hewan yang keturunannya dihasilkan dari hubungan sejenis. 

Karena itulah syariat memberikan jaminan untuk menjaga populasi manusia dapat hidup lestari dan berkembang sehat. Syariat tidak hanya mengatur bagaimana mendapatkan keturunan, melainkan juga melakukan penataan kehidupan rumah tangga dengan memberikan pendidikan dan kasih sayang kepada anak-anak. agar memiliki kehalusan budi pekerti dan tingkat kecerdasan yang memadai.

Maqashid syariah menjaga keturunan

5. Menjaga harta

Jenis maqashid syariah yang terakhir ini mungkin telah sering kamu jumpai pembahasan dan dalam muamalahmu sehari-hari. Tujuan kelima ini menunjukkan bahwa syariat Islam sangat menghargai kepemilikan seseorang atas harta kekayaan.

Karena itulah ada syariat berupa larangan untuk mengambil harta orang lain secara bathil pada al-quran surat Al-Baqarah ayat 188. Begitu juga larangan melakaukan perampasan atau pencurian harta benda milik orang lain. Allah subhanahu wa ta’ala juga menyampaikan bahwa mereka yang mencuri sebaiknya diberi hukuman potong tangan, sebagai pembalasan atas yang mereka kerjakan (Qs Al-Maidah ayat 38).

Tujuan maqashid memelihara harta

Al-Maidah 38

Sebagian orang berpendapat bahwa larangan ini sadis.  Bahkan dianggap tidak sesuai dengan hak asasi manusia. Namun, terdapat maksud mulia dibalik pensyariatannya. Yaitu untuk melakukan penjagaan terhadap harta setiap manusia, apapun agamanya. 

Karena pencuri yang sudah memperoleh hukuman syar’i ini, maka dia akan susah untuk mengulangi lagi perbuatannya. 

Dan para calon pencuri lainnya akan khawatir bernasib sama dengan pencuri pendahunya. InsyaAllah menjadi efek jera, sehingga mewujudkan ketenangan dan keamanan ditengah-tengah masyarakat.

Hikmah dan urgensi

Kelima tujuan maqashid ini memberikan arahan bagaimana individu memahami maksud dan tujuan dari suatu syariat. Setelah memahaminya, setiap insan semakin yakin dengan setiap amal yang dikerjakannya, dan semakin baik setiap ibadah, muamalah dan akhlaknya.

Jika saat ini baru mengerjakan syariat yang tingkatannya dharuriyat, maka setelah mengenal maqashid mulai mengerjakan ibadah tingkatan tahsiniyat, seperti rajin sholat dhuha dan tidak ketinggalan rawatib.

Hikmah maqashid syariah lainnya adalah meminimalisir perbedaan dan perdebatan dalam ranah fikih dan fanatisme bermadzhab.

Para ahli hukum dapat meneliti dan menyampaikan istinbath hukum berdasarkan tujuan maqashid. Hal ini akan lebih meningkatkan pemahaman umat atas mengapa ada perintah yang harus dijalankan dan larangan yang perlu ditinggalkan dalam syariat. 

Karena itulah Iman Haramain al-Juwaini (W. 478 H) menyampaikan bahwa salah satu urgensi dari maqashid syariah adalah agar setiap orang mengetahui hakikat dari penetapan hukum syariat. Sebab tanpa ketidaktahuan terhadap tujuan dasar syariat dalam perintah dan larangan, menyebakan terjadi benturan keras di kalangan ulama.

Mungkin itu juga sebabnya belakangan terjadi benturan pada umat islam, karena berbeda pendapat mengenai hal-hal khilafiyah? Atau Bid’ah, tidak bi’dah? 

Kesimpulan

Memahami maqashid syariah adalah mengetahui bahwa perintah dan larangan agama bukan sekedar perintah, melainkan memiliki makna dan tujuan. Tujuannya adalah agar kamu mendapatkan maslahah dan menghindarkan mafsadah atau keburukan. 

Ingatlah bahwa ada 5 hal utama yang menjadi priotas, yaitu penjagaan terhadap agama, jiwa, akal, keturunan dan harta. Dan juga ada syariat yang menjadi pelengkap dan juga menjadi penyempurna bagi kehidupanmu di dunia maupun di akhirat kelak.