[ADINSERTER AMP]

Macam-macam Riba dan Contohnya dari Zaman Old hingga Zaman Now

Riba adalah transaksi terlarang pada aktivitas muamalah dalam islam. Oleh karena itu, pengetahuan mengenai macam-macam riba dan contohnya perlu dipahami setiap muslim.

Motivasi untuk memahami arti riba adalah telah datangnya peringatan dari Rasulullah Sallalhu ‘alaihi wassalam. Peringatan tersebut diriwayatkan oleh Ibnu Majah dari Abu Hurairah. Pesannya adalah, akan datang pada manusia suatu masa, yang pada saat itu tiada seorangpun yang tidak makan riba. Bahkan yang berusaha tidak memakan riba, tetap terkena debu riba tersebut.

Sebuah peringatan yang perlu diwaspadai. Sebab, ancaman bagi pelaku macam-macam riba dalam jual beli dan hutang piutang lebih besar dibandingkan ancaman mereka yang berzina. Hal tersebut tertuang dalam dalil hadist tentang riba berikut ini:

  • Dari Abdullah bin Masud – beliau menyampaikan bahwa nabi Muhammad Sallahu ‘alaihi wassalam bersabda mengenai riba yang terdiri dari 73 pintu. Dan pintu teringannya adalah seperti menikahi ibu kandung sendiri (HR. Ibnu majah)
  • Dari Abdullah bin Hanzhalah Ghasilul Malaikah – Sahabat nabi ini menyampaikan sabda rasullullah sallalhu ‘alaihi wassalam mengenai satu dirham riba yang dimakan secara sadar, dosanya melebihi perbuatan 36 wanita pezina.

Demikianlah bahaya riba bagi mereka yang melakukannya. Sehingga dosa riba termasuk kedalam salah satu dari tujuh dosa yang membinasakan.

Pengertian riba

Arti riba dalam islam secara bahasa adalah tambahan, kelebihan atau bertambah dan tumbuh. Sedangkan menurut istilah, pengertian riba menurut ulama Muhammad Asy Syirbini adalah suatu transaksi, yang pada saat berlangsungnya akad  tidak diketahui kesamaannya (transaksi penganti) menurut ukuran syariat. Atau sederhananya arti riba dapat dipahami dari pengertian riba menurut ahli fiqih berikut ini:

Riba adalah setiap pinjaman yang mensyaratkan didalamnya tambahan (Yusuf al-Qardawi)

Berangkat dari definisi riba ini, maka  sumber riba adalah transaksi pinjaman yang tidak sesuai syariat . Dalam kehidupan sehari-hari, transaksi pinjaman dapat terjadi pada aktivitas hutang piutang uang dan transaksi jual beli. Maka macam-macam riba dan pengertiannya terbagi dalam dua kelompok besar.

  1. Riba duyun – pengertian riba duyun adalah transaksi riba akibat transaksi hutang piutang yang tidak memenuhi ketentuan syariah. Seperti adanya keuntungan bersama adanya risiko (al ghunmu bil gurmi) dan adanya keuntungan karena adanya biaya atau modal (al kharaj bin dhaman)
  2. Riba buyu’ – arti riba buyu’ adalah jenis riba karena transaksi jual beli barang ribawi yang pertukaran barangya tidak memenuhi kriteria sama kualitas, kuantitas dan waktu penyerahan.

Contoh transaksi riba duyun dan buyu’ telah dan terus dipraktekkan para penggiat transaksi riba, sejak zaman old hingga zaman now. Sehingga setiap orang yang akan melakukan macam-macam muamalah dalam islam perlu mengetahui pengertian riba dan jenis riba yang mungkin saja hadir pada transaksi yang akan dilakukannya.

Macam-macam riba dan contohnya

Riba adalah jenis transaksi lawas yang telah ada sejak lama. buktinya adalah terdapatnya larangan riba pada kitab suci ajaran nabi Musa alaihisalam, yang hidup pada 1500 tahun sebelum masehi. Dan setelah lebih dari 3500 tahun, transaksi tersebut telah berkembang. Sehingga mereka yang tidak memahami arti riba, turut melakukannya baik disadari maupun tidak.

Selain itu, beberapa ulama menyebutkan bahwa riba adalah termasuk perbuatan yang zalim atau menzalimi orang lain. Karena mengambil harta orang lain tanpa ada pertukaran yang seimbang. Seperti yang pernah diungkapkan oleh ustadz Khalid Basalamah saat membahas kitab dosa-dosa besar bab zhalim

Oleh karena riba adalah transaksi yang seharusnya ditinggalkan dan tidak dilakukan, maka diperlukan ilmu untuk tidak terjebak dalam transaksi ribawi. Berikut ini adalah macam-macam riba beserta contohnya yang dapat dimanfaatkan untuk memahami riba dan prakteknya dalam kehidupan sehari-hari.

1. Riba qardh

Pengertian riba qardh adalah riba karena adanya persyaratan kelebihan pengembalian pinjaman yang dilakukan di awal akad  atau perjanjian hutang-piutang. Sehingga saat jatuh tempo hutang, pemberi hutang (muqridh) menerima pengembalian sebesar pokok ditambah kelebihan yang dipersyaratkan dari penerima hutang (muqtharidh).

Contoh transaksi riba qardh dalam kehidupan sehari-hari masih sering ditemukan. Baik transaksi yang dilakukan oleh orang-perorangan, maupun lembaga keuangan. Berikut ini adalah beberapa praktek riba qardh yang sebaiknya dihindari.

  • Rentenir – meminjam uang sebesar Rp. 5 juta kepada orang lain, kemudian yang bersangkutan meminjamkan uang dengan syarat bunga 20% selama 6 bulan. Saat pembayaran, peminjam maupun pemberi pinjaman telah makan riba sebesar Rp. 1 juta. Termasuk juga hukum meminjam uang di bank konvensional.
  • Menabung atau investasi di Bank – membuka tabungan atau deposito merupakan transaksi riba jika dilakukan di bank konvensional. Sebab, perjanjian pada bank konvensioanal adalah perjanjian pinjam-meminjam uang, dengan ketentuan bank memberikan kelebihan sebesar bunga yang diperjanjikan.

Meskipun ada beberapa pendapat ulama yang membolehkan bunga bank, namun pendapat mayoritas ulama pemberian bunga pinjaman termasuk riba. Karena tambahan yang dibayarkan pemberi pinjaman, tidak memiliki transaksi pengantinya yang sesuai.

Misal, pada contoh transaksi riba renternir, pihak yang berhutang menerima harta sebesar Rp. 5 juta dengan mengeluarkan harta kepada pemberi hutang sebesar Rp. 6 juta. Sebaliknya, rentenir menerima kelebihan Rp. 1 juta, tanpa menanggung risiko kerugian.

2. Riba Jahiliyah

Disebut jahiliyah karena macam-macam riba dan contohnya ini dipraktekkan oleh masyarkat arab pada masa jahiliyah, yaitu masa sebelum kenabian baginda Muhammad sallalhu ‘alaihi wassallam.

Riba jahiliyah termasuk jenis riba duyun. Arti riba jahiliyah adalah tambahan yang dipersyaratkan pada saat jatuh tempo pembayarang hutang, sebagai kompensasi perpanjangan periode hutang. Sehingga Perbedaan pengertian riba jahiliyah dengan riba qardh adalah pada waktu penetapan kewajiban kelebihan pengembalian hutang.

Praktek riba jahiliyah ini terus berlangsung hingga sekarang, berikut ini adalah beberapa contoh transaksi riba jahiliyah dalam kehidupan sehari-hari, dari zaman old hingga zaman now.

  • Praktek jahiliyah – pemberi hutang pada masa jahiliyah di arab berkata kepada pihak penerima hutang saat jatuh tempo. ‘lunasi hutangmu atau kamu boleh tunda pembayaran dengan memberikan tambahan.”
  • Praktek zaman now – transaksi kartu kredit. Saat pengguna kartu kredit membeli barang senilai Rp. 1 juta dan tidak mampu membayar penuh saat jatuh tempo. Maka penguna kartu kredit diharuskan membayar bunga atas tunggakan kartu kreditnya.

Praktek riba jahiliyah ini mengakibatkan beralihnya perjanjian pinjaman menjadi perjanjian yang mengambl manfaat. Seperti halnya pengertian riba dalaml islam, setiap pinjaman yang mengambil manfaat adalah riba.

3. riba nasiah dan riba fadhl

Macam-macam riba ini merupakan dua jenis riba jual beli dalam kehidupan sehari-hari. Penyebab utama timbulnya riba nasiah dan riba fadhl adalah transaksi jual beli yang melibatkan barang ribawi tetapi tidak memenuhi ketentuan syariat. Adapun ketentuan syarat jual beli barang ribawi dalam islam setidaknya meliputi 3 kondisi berikut ini yaitu:

  1. Sama Kualitas (mistlan bi mistlin)
  2. Sama kuantitas (sawa-an bi sawa-in)
  3. waktu penyerahan yang sama (yadan bin yadin)

Oleh karena pengertian riba nasiah dan fadhl memiliki kaitan erat dengan barang ribawi, maka memahami arti riba jual beli ini perlu terlebih dahulu mengetahui jenis barang ribawi dalam islam.

Hadist barang ribawi salah satunya disampaikan oleh sahabat ‘ubadah bin ash shamit dalam hadist riwayat muslim berikut ini.

Transaksi barang ribawiyah adalah jual beli emas dengan emas, perak dengan perak, gandum dengan gandum, sya’ir dengan sya’ir, garam dengan garam, dan kurma dengan kurma, haruslah dilakukan dengan jumlah yang sama dan penyerahan barang secara langsung.

Jika transaksi terjadi antara 6 jenis barang ribawi yang berbeda, tidak perlu sama takaran, namun tetap dengan penyerahan tunai. Sedangkan jika muamalah jual beli barang non ribawi tidak harus dilakukan secara tunai dan sama takaran dan kualitas.

Berdasarkan pemahaman mengenai barang ribawi, maka perbedaan pengertian riba nasiah dan riba fadhl adalah sebagai berikut:

  • Riba nasiah – adalah riba karena karena transaksi dua jenis barang ribawi yang sama namun dengan penanguhan penyerahan barang atau pembayaran.
  • Riba fadhl – pengertian riba fadhl adalah riba pada pertukaran barang ribawi sejenis dengan kualitas tidak sama atau kuantitas (jumlah) yang tidak sama.

Meskpiun fungsi emas dan perak sebagai mata uang dan alat pembayaran telah digantikan oleh uang. Namun, macam-macam riba nasiah dan riba fadhl dalam kehidupan sehari-hari tetap banyak ditemukan. Artikel contoh riba nasiah dan riba fadhl memberikan penjelasan lebih lanjut mengenai praktek kedua riba jual beli ini, dari zaman old hingga zaman now.

4. Riba yad

Riba yad adalah termasuk jenis riba jual beli, baik barang ribawi maupun non ribawi. Arti riba yad adalah riba yang terjadi pada transaksi yang tidak menegaskan harga pembayaran apabila transaksi dilakukan dengan penyerahan langsung (tunai) atau penyerahan tunda.

Contoh riba yad atau riba al-yadi adalah transaksi pembelian motor yang oleh penjual ditawarkan dengan harga transaksi kontan Rp. 10 juta dan transaksi kredit sebesar Rp. 15 juta. Seorang pembeli kendaraan tersebut, namun sampai kedua pihak berpisah, belum ada kesepakatan harga yang akan dibayarkan.

Perbedaan nilai transaksi kontan dan kredit, tanpa ada kesepakatan harga inilah yang disebut sebagai riba yad. Namun, jika kedua belah pihak sepakat memilih satu harga sebelum berpisah. Maka transaksi tersebut tidak riba.

Demikianlah penjelasan mengenai macam-macam riba dan pengertiannya. Terdapat 4 jenis riba yang perlu diwaspadai dan dihindari. Karena riba adalah transaksi yang mampu berevolusi sehingga terus ada hingga zaman now, maka pemahaman mengenai arti riba dan contoh riba dalam kehidupan sehari-hari mutlak diperlukan. Agar selamat dari transaksi yang terlarang saat melakukan muamalah sehari-hari.

Bagikan artikel ini,

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.