[ADINSERTER AMP]

Hukum Menabung di Bank – Pilih yang Mana?

Setelah mencari uang, kebutuhan berikutnya adalah menyimpannya. Sebab, berbagai keperluan di masa depan perlu dipersiapkan dari jauh-jauh hari. Biaya ibadah umroh, qurban dan haji akan lebih mudah dikumpulkan jika rutin menabung. Begitu juga dana pendidikan, uang muka KPR hingga liburan. Oleh sebab itulah, hukum menabung dalam islam adalah sangat dianjurkan. Dengan catatan, cara menabungnya tidak melanggar syariat dalam muamalah.

Biasanya, bank menjadi pilihan pertama. Tak mengherankan. Sebab, hampir seluruh kebutuhan transaksi keuangan dilayani perbankan. Dan setelah memiliki rekening Bank, alternatif lain seperti tabungan emas, investasi reksadana, atau menyimpan uang lewat kerjasama usaha sistem bagi hasil lebih mudah dilakukan.

Perbankan berhasil memberikan kemudahan penyimpanan dan pengambilan uang. Sekaligus menghadirkan rasa aman dari kehilangan dan kecurian. Tambahan lagi, mereka menawarkan keuntungan menabung berupa pendapatan bunga atas saldo tabungan dan deposito yang kamu miliki.

menabung di bank konvensional
image by chatbotmagazine.com

Pilihannya pun beragam. Mulai dari jaringan bank konvensional seperti BRI, BCA, Mandiri, dan BNI. Ataukamu dapat menabung pada salah satu dari bank syariah terbesar di Indonesia seperti BRI syariah, BNI syariah, Bank Syariah Mandiri dan Bank Muamalat.

Namun, bagaimanakah sebenarnya hukum menabung di bank-bank tersebut?

Benarkah ada riba bank?

Dan apakah menabung di bank syariah juga riba?

Yuk, cermati pendapat para ulama mengenai hukum menabung, agar kamu semakin mantap menentukan bank terbaik untuk mengelola keuanganmu.

Hukum menabung di bank menurut MUI

Undang-undang NKRI memberikan keleluasan kepada bank sebagai penyimpan dan pengelola dana masyarakat. Perbankan melakukannya dengan mengeluarkan tiga produk simpanan.  Yaitu,

  • Giro – produk simpanan untuk bisnis, biasanya tidak ada bunga simpanan
  • Tabungan – produk bank untuk menyimpan uang dan kebutuhan transaksional. Memperoleh bunga.
  • Deposito – produk investasi, dengan bunga jauh lebih besar dari tabungan.

Namun, Penerapan skema bunga simpanan pada ketiga produk simpanan tersebut menimbulkan permasalahan serius.

hukum menabung di bank konvensional
image by wsj.com

Bank BCA misalnya. Pada publikasi laporan keuangan tahun 2018, Bank konvensional ini melaporkan penyaluran kredit sebesar Rp. 538 triliyun. Jumlah yang jauh melebihi dan total keseluruhan modalnya sebesar Rp. 151 triliyun. Capaian itu dapat terwujud karena mereka mampu menghimpun dana masyarakat sebesar Rp. 630 triliyun.

Kesimpulannya, tanpa ada pinjaman dana dari masyarakat, bank tidak memiliki sumber dana guna menyalurkan kredit, untuk mendapatkan keuntungan bisnisnya. Sehingga, pemberian bunga atas simpanan sama saja dengan tambahan atas hutang bank kepada nasabah.

Transaksi ini merupakan jenis muamalah yang dilarang dalam Islam. Sebab, hutang piutang uang dengan kewajiban pengembalian melebihi pokok hutang merupakan salah satu jenis riba.

Meskipun sebagian ulama berpendapat bahwa bunga bank halal dan menabung di bank diperbolehkan. Namun, jumhur ulama menyatakan sebaliknya. Majelis Ulama Indonesia menyikapi pro kontra ini melalui fatwa MUI nomor 1 tahun 2004, tentang bunga (interest/faedah).

MUI menyimpulkan bahwa penerapan sistem bunga atas hutang uang telah memenuhi kaidah riba, yaitu jenis riba qardh dan riba jahiliyah. Konsekwensinya, praktek pengunaan sistem bunga tidak boleh dilakukan, baik oleh individu maupun lembaga keuangan, termasuk bank. Oleh karena itu, hukum menabung di bank menurut MUI adalah haram.

Arahan tentang cara bermuamalah dengan lembaga keuangan konvensional juga diberikan MUI. Pertama, apabila belum ada jaringan bank syariah yang dapat dijangkau boleh bertransaksi dengan bank konvensional. Dan yang kedua, apabila dalam kondisi dharurat/hajat.

Halalkah menabung di bank syariah?

Lembaga keuangan syariah memang dilahirkan sebagai solusi untuk mengakses perbankan tanpa riba. Tak hanya meniadakan sistem bunga, perbankan syariah juga tidak melakukan transaksi yang dilarang dalam islam lainnya, seperti maysir dan gharar.

Hal tersebut dimungkinkan karena terdapat perbedaan bank konvensional dan syariah yang sangat fundamental, yaitu pada akad atau perjanjian antara nasabah dengan bank.

hukum menabung di bank
image by moneycrasher.com

Menabung di bank konvensional mengunakan perjanjian hutang piutang berbunga. Sedangkan Bank syariah menerapkan perjanjian titipan dan akad mudharabah, sesuai ketentuan yang dikeluarkan MUI melalui Dewan Syariah Nasional.

Beragam fatwa telah diterbitkan MUI sebagai arahan bank dalam menjual produk syariah. Seperti,

  • fatwa nomor 1 hingga 3 tahun 2000 – tentang giro, tabungan dan deposito yang akad tabungan hanya boleh akad wadiah dan mudharabah
  • nomor 13 dan 14 tahun 2000 – tentang sistem dan prinsip distribusi hasil usaha LKS.
  • fatwa nomor 114 tahun 2017 – tentang akad syirikah
  • dan fatwa nomor 115 tahun 2017 –  tentang akad mudharabah
  • Serta beragam fatwa mengenai pembiayaan syariah – seperti 10 fatwa DSN MUI tentang murabahah, dan akad lainnya seperti ijarah dan musyarakah.

Sampai saat ini, majelis ulama telah menerbitkan lebih dari 125 fatwa. Keseluruhan fatwa tersebut menjadi arahan bagi perbankan syariah dalam membuat produk.

Kehadiran Otoritas Jasa Keuangan (OJK) serta DPS bank syariah membantu memastikan agar setiap produk bank tidak melanggar ketentuan hukum dan perundang-undangan, serta sesuai ketentuan fatwa DSN MUI. Setiap produk bank syariah harus memenuhi kaidah muamalah dalam islam. karena itulah hukum menabung di bank syariah sesuai fatwa MUI adalah halal. Wallahu a’lam bishawab.

Bank syariah belum syar’i?

Setelah lebih dari 20 tahun sejak kelahiran lembaga keuangan syariah pertama, Bank muamalat, pangsa pasar bank syariah hanya 5%. Masih jauh lebih kecil dibandingkan bank konvensional.

Penyebabnya beragam. Mulai dari jaringan kantor cabang yang kalah jauh dengan bank konvensional, dan layanan bank syariah yang belum optimal. Hingga masih adanya keraguan sebagian umat mengenai apakah benar bank syariah bebas riba?

Adanya perbedaan pendapat dikalangan ulama mengenai kaidah hukum muamalah tertentu, menimbulkan pro kontra boleh atau tidaknya mengunakan produk bank syariah. Akibatnya produk tabungan bank syariah tidak menjadi prioritas utama.

Sebagian menyatakan bahwa bank syariah sama saja dengan bank konvensional. Dan memilih tetap menitipkan dana pribadi dan bisnisnya di bank konvensional. Meskipun mengetahui ada bahaya riba disana.

Untuk menghindari riba, sebagian lagi mengupayakan untuk tetap menabung di bank konvensional, dengan menghilangkan perjanjian bunganya. Suatu langkah yang mereka yakini dapat menghindarkan nasabah penabung dari dosa macam-macam riba zaman now. karena tidak ada perjanjian ribawi.

Namun, sebaiknya cara menabung tanpa riba tersebut tidak lagi dilakukan.

Sebab, menabung di bank konvensional sama halnya dengan meminjamkan uang kepada bank. Dan uang tersebut digunakan dalam transaksi riba. Sesuatu yang Allah subhanahu wa ta’ala haramkan.

Padahal syariat mengajarkan untuk hanya saling tolong menolong dalam kebaikan.

Ustadz Abdul shomad pernah menyampaikan ilustrasi fiqih mengenai kaidah meminjamkan pisau.

Meminjamkan pisau kepada yang membutuhkan sunah untuk dilakukan. Namun, janganlah meminjamkan pisau kepada orang yang telah diketahui akan berbuat kejahatan dengan pisau tersebut. Sebab, hal tersebut merupakan perbuatan tolong menolong dalam keburukan.

Begitu juga dengan hukum menabung di bank konvensional.

Meskipun tidak ada perjanjian bunga, namun uang yang disimpankan disana membantu mereka dalam melakukan transaksi riba. Transaksi muamalah yang ganjarannya setara dengan berzina sebanyak 36 kali.

Pilih yang Mana?

Perbedaan dalam menyikapi hukum menabung di bank konvensional ataupun bank syariah mungkin akan terus ada. Sedangkan kebutuhan akan transaksi perbankan belum ada pengantinya.

Bagaimana menyikapinya?

Coba simak penjelasan dari Buya Yahya berikut ini. Pandangan beliau mungkin dapat meyakinkan kamu akan pilihan bank terbaik untuk menabung dan bertransaksi keuangan.

Menabung di Bank Konvensional atau Syariah? – Buya Yahya

 

Bagaimana dengan pilihanmu sekarang?

Bagikan artikel ini,

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.