[ADINSERTER AMP]

Hukum Meminjam Uang di Bank Konvensional dan Syariah

Bank adalah entitas bisnis yang secara sah dan legal memperoleh amanat undang-undang untuk menghimpun dana dari masyarkat dalam bentuk produk simpanan. Dan menyalurkan dana kepada masyarakat yang membutuhkan dana, baik untuk kepentingan konsumtif maupun komersil. Meskipun diakui oleh negara, mayoritas masyarakat muslim masih ragu mengenai hukum meminjam uang di bank, baik untuk kepentingan modal usaha, membeli rumah atau kendaraan bermotor.

Keraguan tersebut muncul karena sistem perbankan mengenakan bunga atau kelebihan pembayaran atas pokok hutang yang diterima oleh kreditur. Penerapan bunga, mustahil dihilangkan dari sistem perbankan, karena pendapatan bunga adalah salah satu penopang utama eksistensi bank hingga saat ini.

Lalu, bagaimana seharusnya bersikap mengenai hukum pinjam uang di bank ini?

Hukum Meminjam Uang di Bank Konvensional

Bank konvensional merupakan lembaga keuangan yang menjadi penyedia layanan pinjaman dan pembiayaan yang paling banyak digunakan oleh masyarakat. Jenis perbankan ini telah hadir sejak dahulu kala, ratusan tahun sebelum sejarah bank syariah di indonesia bermula. Tak heran, sistem dan layanan pinjaman bank konvensional telah membudaya dalam kehidupan sehari-hari.

Namun, terdapat satu permasalahan mendasar yang menimbulkan keraguan masyarakat, khususnya masyarakat yang beragama islam, untuk bertransaksi pinjam uang di bank konvensional. Yaitu, pengunaan sistem bunga pada setiap kredit yang disalurkan bank.

Majelis Ulama Indonesia, dalam fatwa no. 1 tahun 2004 tentang bunga menyatakan bahwa definisi bunga (interest / fa’idah) adalah tambahan yang dikenakan dalam transaksi pinjaman uang atau qardh, berdasarkan tempo waktu dan diperhitungkan secara pasti di muka. Tambahan tersebut diperhitungkan dari pokok pinjaman tanpa pertimbangan pemanfaatan atau hasil dari pokok pinjaman tersebut, biasanya dinyatakan dalam bentuk persentase.

Pada fatwa mengenai bunga tersebut, Majelis Ulama Indonesia (MUI) menegaskan bahwa praktek pembungaan uang melalui penyaluran pinjaman, termasuk yang dilakukan oleh bank konvensional terkategori transaksi riba nasi’ah.

Sehingga hukum meminjam uang di bank menurut MUI adalah haram dan perbuatan tersebut harus ditinggalkan. Kecuali, tidak tersedianya layanan perbankan yang menyediakan fasilitas pembiayaan tanpa riba, seperti bank syariah, koperasi syariah, leasing syariah atau lembaga keuangan syariah lainnya.

Namun, terdapat perbedaan pendapat dalam hal alasan ulama mengharamkan bank konvensional. Beberapa ulama lain ada juga yang berpendapat bahwa bunga bank tidak termasuk riba. Seperti pendapat beberapa ulama berikut dalam artikel: Apakah alasan para ulama yang membolehkan bank konvensional?

Meskipun begitu, mayoritas ulama dan ahli ekonomi islam menyepakati bahwa pinjam uang di bank konvensional hukumnya adalah haram, karena adanya kelebihan pembayaran atas hutang pokok sehingga merupakan macam-macam riba dalam muamalah, yang termasuk salah satu dosa besar.

Hukum Meminjam Uang di Bank Syariah

Kabar baiknya, sejak tahun 1992 telah berkembang sistem perbankan syariah di Indonesia. Meskipun hingga saat ini pangsa pasarnya masih sekitar 5% dari keseluruhan pasar perbankan nasional.

Bank syariah memberikan solusi pinjam uang di bank bagi masyarkat. Karena sistem pinjaman bank syariah tidak mengunakan sistem bunga, seperti halnya yang ada pada bank konvensional. Sistem pinjaman bank syariah meniadakan praktek bunga pada pinjamannya. Hal tersebut dilakukan dengan menganti perjanjian hutang-piutang antara bank dan nasabah.

Jika pada bank konvensional, perjanjian kreditnya memiliki landasan transaksi (underlying transaction) pinjaman uang. Maka pada pinjaman bank syariah perjanjian pembiayaanyan mengunakan landasan tranasaksi hutang piutang jual beli, hutang piutang sewa, dan kerjasama modal. Ketiga jenis perjanjian ini dikenal masyarakat dengan nama akad murabahah, akad ijarah, akad mudharabah atau akad musyarakah.

Contoh kasus, jika masyarakat hendak mengajukan pinjaman di bank syariah untuk membeli rumah. Maka hukum meminjam uang di bank untuk membeli rumah adalah boleh. Karena, jika mengunakan akad KPR syariah murabahah, angsuran yang dibayarkan terdiri dari komponen pokok hutang dan keuntungan jual beli, yang bukan termasuk riba.

Hal tersebut Berbeda dengan angsuran bank konvensional yang merupakan akumulasi dari pokok hutang ditambah dengan kelebihan bunga pinjaman. Sehingga menjadi transaksi ribawi dan termasuk muamalah dalam islam yang terlarang.

Perbedaan akad inilah yang merupakan perbedaan bank syariah dan bank konvensional yang utama. Perbedaan konsep perjanjian kredit ini menghasilkan beberapa perbedaan turunan lainnya. Seperti penerapan denda keterlambatan dan pelunasan pembiayaan dipercepat.

Bank syariah riba atau bukan?

Meskipun terdapat perbedaan akad pinjaman di bank konvensional dan syariah, namun sebagian masyarakat masih beranggapan bahwa pembiayaan bank syariah sama saja dengan bank konvensional. Alasannya adalah karena sama-sama mengambil keuntungan melalui kelebihan pembayaran atas pokok pinjaman. Sehinga, menarik kesimpulan bahwa bank syariah riba juga.

Mengenai hal itu, Allah subhanahu wa ta’ala telah memperingkatkan bahwa ada orang yang mengatakan bahwa jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah subhanahu wa ta’ala telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba.

Ayat Al-Quran tentang riba yang terdapat dalam surat Al-Baqarah, ayat ke-275 itu adalah penegasan syariat mengenai perbedaan antara kebolehan pendapatan margin jual beli. Serta pelarangan pendapatan bunga pinjaman uang di bank konvensional.

Selain itu, fatwa dari Dewan syariah Nasional (DSN-MUI) dapat dijadikan referensi dalam menentukan hukum meminjam uang di bank syariah. Sebab, sesuai amanat undang-undang, skema bisnis dan produk yang dikeluarkan oleh bank syariah, harus mendapatkan bimbingan dan pandangan dari Majelis ulama Indonesia, melalui fatwa yang telah dirumuskan secara komprehensif oleh DSN-MUI.

Namun, pro kontra dan opini mengenai bank syariah riba atau bukan? Merupakan hal yang wajar. Bank syariah merupakan hasil ijtihad jama’i para ulama dan ahli ekonomi islam sebagai alat atau metode untuk menjadikan hukum meminjam uang di bank konvensional yang haram, menjadi boleh karena di bank syariah. Adapun, pendapat atau ijtihad lainnya dari ulama lain harus dihargai.

Khilafiyah dalam metode menghindari riba yang ada dalam skema pinjaman bank, jangan sampai menjadi pembenaran untuk tetap mengunakan transaksi pinjaman bank konvensional. Transaksi yang oleh mayoritas ulama diharamkan, sehingga wajib ditinggalkan atau dicari metode lainnya yang dibolehkan syariat. Cermati juga pandangan ulama mengenai hukum menabung di bank, sebelum memutuskan mengambil pinjaman di bank konvensional atau syariah.

Bagikan artikel ini,

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.