[ADINSERTER AMP]

Hukum Arisan Barang, Haram atau Boleh? Beserta Ketentuannya

Para ulama berbeda pendapat mengenai hukum arisan barang dalam islam. Sebagian berpendapat haram, sebagian lagi menganggapnya sebagai transaksi muamalah yang mubah, atau boleh.

Tentu saja, hal ini menimbulkan kebingungan. terutama bagi kamu yang menjaga diri dari melakukan muamalah yang dilarang. Apalagi belum ada fatwa mengenai arisan barang dalam islam menurut MUI.

Padahal, skema arisan barang ternyata banyak manfaatnya. Terutama untuk pembelian buku, atau peralatan rumah tangga tertentu, bahkan digunakan dalam arisol.

Bagi pemilik barang, skema arisan ini dapat membantu meningkatan jumlah penjualan, dan memberikan kemudahan dalam mengatur jumlah stok, dan waktu re-stock barang dagangannya.

hukum arisan barang
belanja barang by palmbeachpost.com

Sedangkan pembeli mendapatkan kemudahan membeli barang dengan cara mencicil sesuai kemampuan mereka perbulannya. Tambahan lagi, biasanya cicilan arisan lebih murah dibandingkan dengan cara kredit barang ke bank atau kredit multiinance . Sehingga dapat terhindar dari praktek bunga pinjaman dan macam-macam riba.

lalu, bagaimanakah sebenarnya pandangan syariat mengenai arisan barang? Kenapa terjadi perbedaan pendapat? Dan apa sajakah batasan arisan barang yang halal?

Jawabannya akan coba diurai pada artikel ini.

Pendapat 1: hukum arisan barang haram

Pendapat mengenai tidak bolehnya arisan barang, salah satunya disampaikan oleh ustadz Shiddiq al Jawi. Beliau merupakan salah satu tokoh yang sering memberikan kajian tentang ekonomi islam, dan juga seorang penulis buku.

Menurut beliau, skema arisan barang mirip dengan arisan pada umumnya. Yaitu aktivitas saling meminjamkan uang diantara peserta, secara periodik dan selama jangka waktu tertentu. Namun dengan perbedaan bahwa pemenang arisan tidak memperoleh uang, melainkan menerima barang.

Skema arisannya seperti contoh kasus berikut,

Satu kelompok arisan dengan 6 orang anggota, setiap pertemuannya saling menyetorkan dana Rp. 500 ribu. Sehingga total terkumpul dana Rp. 3 juta. Sesuai kesepakatan, pemenang arisan akan menerima barang penganti senilai Rp. 3 juta.

Menurut beliau, mekanisme ini berpotensi melanggar dua kaidah dalam muamalah, yaitu:

  1. Setiap pinjaman harus dikembalikan dengan jenis barang dan kuantitas yang sama.

Beliau berijtihad bahwa karena arisan sebenarnya merupakan transaksi saling menghutangkan uang antar anggota arisan, maka sesuai kaidah muamalah, seharusnya setiap peserta arisan hanya boleh menerima arisan dalam uang.

  1. Larangan melakukan dua akad dalam satu transaksi.

Terjadi pengabungan akad pinjaman uang (qardh) dengan akad jual beli diantara para peserta arisan.  Sebab ada persyaratan melakukan pembelian barang sebagai dasar pinjaman yang diberikan.

Berdasarkan dua alasan inilah, ustadz Shiddiq al Jawi menyimpulkan bahwa arisan dengan mengumpulkan uang dan menerima barang, hukumnya adalah haram untuk dilakukan.

Pendapat 2: Hukumnya boleh

Sebagian ulama memiliki pendapat berbeda. Perbedaan ini dikarenakan pengamatan bahwa arisan barang sebenarnya adalah bentuk transaksi jual beli, bukan akad pinjaman (qardh).

Misal, membeli peralatan dapur seharga Rp. 1.8 juta mungkin berat bagi sebagian orang. Agar ringan, mereka membentuk kelompok arisan berenam.

Masing-masing menyetorkan Rp. 300rb. Setiap bulan terkumpul uang yang cukup, untuk secara bergantian sesuai giliran arisan, membeli peralatan dapur yang mereka butuhkan

Coba cermati alur skema arisan barang beikut ini:

  1. Terdapat pemilik barang, selaku penjual. Dan pembeli, yaitu pemenang arisan
  2. Dana pembeli berasal dari dana pribadi dan pinjaman peserta arisan
  3. Transaksi antara penjual dan pembeli adalah jual beli
  4. transaksi antara peserta arisan, merupakan akad qardh

Pada alur transaksi tersebut terdapat dua transaksi yang terpisah, yaitu jual beli dan pinjaman.

Memang transaksi jual beli terjadi setelah ada transaksi pinjam meminjam antara peserta arisan. Namun, jual beli tersebut hukumnya sah, sebab tidak ada syarat jual beli yang melarang pembeli bertransaksi dengan dana yang bersumber dari hutang.

Tambahan lagi, antara pemenang arisan dengan penjual berlangsung akad jual beli (ba’i) dan tanpa ada perjanjian hutang piutang. Karena barang dibayar kontan.

Sehingga, alur transaksi seperti ini tidak tepat jika dihukumi sebagai muamalah yang terlarang. Sebab tidak terjadi  dua akad dalam satu transaksi. Tidak ada pengabungan akad jual beli dan qardh.

Adapun, transaksi qardh pada pihak pembeli merupakan mekanisme tolong menolong dan saling meringankan. Sebagaimana dianjurkan dalam islam dan tertulis pada  surat Al-maidah ayat 2, yang bermakna anjuran untuk saling tolong menolong dalam kebaikan.

hukum arisan barang dalam islam
berbelanja by womansday.com

Tips cara main arisan barang

Beberapa ulama seperti ustadz Ammi Nur Baits dan ustadz Erwandi Tarmidzi berpendapat bahwa hukum arisan barang adalah boleh, namun perlu berhati-hati dalam pelaksanaannya.

Sebab, arisan merupakan transaksi qardh, yang bila tidak tepat pelaksanaanya dapat bergeser menjadi transaksi riba jahiliyah.

Karena itu, agar arisan barang kamu berkah dunia akhirat, pastikan beberapa tips berikut ini perlu dipraktekkan.

Pertama, sama halnya dengan cara main arisan emas, pastikan bahwa semua anggota arisan memahami bahwa skema arisan adalah akad hutang, yang mesti dilunasi meskipun yang bersangkutan meninggal dunia.

Kedua, barang yang dibeli dari duit arisan, harganya tetap selama periode arisan. Sebab, jika terjadi perubahan harga, menyebabkan perbedaan jumlah hutang piutang antara peserta, sehingga ada riba.

Tips terakhir agar kebolehan hukum arisan barang tidak dilanggar adalah peserta tidak memberlakukan ketentuan denda, apabila terjadi keterlambatan pembayaran iuran arisan.

Jadi, membeli barang kebutuhan yang harganya mahal, sekarang dapat lebih mudah dengan skema arisan barang. Apalagi selain cara konvensional, juga marak arisan barang online, seperti arisan mapan.

Bagikan artikel ini,

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.