Fatwa MUI tentang Forex, juga tentang Trading?

fatwa mui tentang forex

Sebagian orang mencari fatwa MUI tentang forex karena akan melakukan transaksi valuta asing. Sebagian lagi karena akan trading forex.

Bagaimana dengan kamu?

Apapun motivasinya, informasi mengenai fatwa tersebut perlu dicermati. Sebab, transaksi forex berkaitan dengan uang, dan uang merupakan barang ribawi.

Setiap barang ribawi harus ditransaksikan sesuai ketentuannya, jika tidak maka transaksinya haram. Tentunya kamu tidak menginginkan harta yang didapatkan, ternyata berasal dari transaksi terlarang dalam Islam.

Artikel mengenai barang ribawi dan cara mengetahuinya dapat membantu kamu memahami konsekuensi transaksinya.

Dan pada artikel ini kamu dapat mengetahui apa saja isi dan ketentuan dari fatwa DSN-MUI dan juga bagaimana kaitannya dengan ketentuan trading forex.

Apa itu forex dan trading forex?

Kata Forex berasal dari istilah Foreign Currency and exchange. Masyarakat lebih mengenalnya sebagai foreign exchange, kemudian disingkat lagi sebagai forex atau Fx.

Proses penukaran mata uang dapat dilakukan secara langsung melalui Bank atau Money Changer. Dan juga dapat dilakukan di pasar valuta asing. Pasar ini spesial, sebab buka 24 jam selama 5 hari, Senin ke Jumat.

Di pasar ini transaksi valas dilakukan secara online. Bisa dikatakan siapapun dapat melakukan transaksi nyaris tanpa hambatan, bahkan melakukan trading forex.

Laman web duwitmu.com menuliskan bahwa pengertian trading forex adalah kegiatan memperdagangkan (jual/beli) produk keuangan, berupa forex pair, berdasarkan harga yang berlaku di pasar saat transaksi berlangsung dan dilakukan melalui broker forex.

Ya, forex dan trading forex sebenarnya dua hal yang berbeda. Namun, sehari-hari sering digeneralisasir sebagai forex saja. Seperti menyebut bisnis forex untuk aktivitas bisnis trading forex.

Fatwa MUI tentang Forex

Sampai saat ini ada dua fatwa forex yang telah dikeluarkan Dewan Syariah Nasional MUI.

fatwa mui tentang forex dan hedging

Fatwa pertama sering digunakan untuk menilai apakah trading forex halal atau haram. Sedangkan fatwa kedua, meskipun jarang dibahas, memberikan penjelasan tambahan untuk memahami jenis forex yang halal dalam Islam.

1. tentang jual beli mata uang

MUI menetapkan fatwa al-sharf sebagai pedoman dalam saat melakukan beberapa bentuk transaksi valas. Dan setiap transaksi tersebut memiliki hukum syariah yang berbeda.

Setidaknya terdapat 4 jenis transaksi valuta asing yang terjadi di pasar valas, yaitu spot, forward, swap dan opsi.

Namun, tidak semua transaksi ini dapat dibenarkan untuk dilakukan sesuai kaidah muamalah dalam islam.

Berikut ini isi fatwa nomor 28/DSN-MUI/III/2002 tentang jual beli mata uang atau al-sharf, mengenai keempat transaksi forex tersebut:

  • Spot – transaksi pertukaran dengan waktu penyelesaian pada saat itu (over the counter) atau maksimal 2 hari, jika dilakukan dengan transfer internasional antar bank. MUI menetapkan bahwa transaksi spot boleh dilakukan.
  • Forward – forex yang dilakukan dengan mekanisme harga yang diperjanjikan sekarang dengan penyelesaian transaksi dalam 2 hari hingga satu tahun. Transaksi valuta asing ini hukumnya haram menurut MUI. Kecuali, ada kebutuhan yang tidak dapat dihindari.
  • Swap – kontrak pembelian atau penjualan valas dengan harga spot dan diikuti dengan transaksi pembelian atau penjualan valas yang sama dengan harga forward. Hukum transaksi swap forex menurut MUI adalah haram
  • Option – transaksi atas hak untuk melakukan pembelian atau penjualan valuta asing, dengan harga dan waktu tertentu di masa depan. Transaksi ini dihukumi sama dengan transaksi swap

Transaksi swap dan option tidak dibolehkan karena mengandung unsur spekulasi (maysir). Sedangkan transaksi forward dilarang karena tidak sesuai dengan kaidah pertukaran emas dengan emas, yang harus dilakukan secara spot.

2. transaksi forward yang boleh

MUI menerbitkan fatwa nomor 96/DSN-MUI/IV/2015 tentang transaksi lindung nilai syariah (Islamic Hedging) atas nilai tukar sebagai rujukan mengenai tata cara melakukan mitigasi risiko akibat fluktuasi nilai tukar mata uang.

Mekanisme hedging dilakukan dengan transaksi sederhana (‘aqd al-Tahawwuth al-Basith) melalui skema forward diikuti dengan transaksi spot pada saat jatuh tempo.

Atau bisa juga dengan skema yang lebih kompleks. Seperti ‘aqd al-Tahawwuth al murakkab dan transaksi lindung nilai di pasar komoditas (‘aqd al-Tahawwuth fi quq al-shi’ah).

Transaksi lindung nilai atau hedging syariah atas nilai tukar baru dapat dilakukan apabila ada kebutuhan nyata. Misal, kebutuhan lembaga keuangan untuk berjaga-jaga dari risiko kurs saat akan melakukan pencairan pembiayaan dalam mata uang USD.

Jika tidak kebutuhan nyata, maka tidak dibenarkan melakukan transaksi forward dan hedging.

Jenis forex yang halal

Sesuai ketentuan dalam fatwa MUI tentang forex, maka transaksi forex yang boleh dilakukan hanya transaksi secara spot dan juga forward jika memenuhi kriteria adanya kebutuhan nyata.

Namun, masih ada 2 ketentuan lain yang harus dipenuhi apabila kamu ingin melakukan transaksi forex. Kedua hal ini tertulis dalam keputusan DSN-MUI pada fatwa no 28 tahun 2002.

jenis forex yang halal

Karena itulah jenis forex yang halal adalah transaksi yang memenuhi ketentuan berikut:

  1. Tidak untuk spekulasi (untung-untungan)
  2. Ada kebutuhan transaksi atau berjaga-jaga (simpanan)
  3. Dilakukan secara spot
  4. Boleh transaksi forward apabila ada kebutuhan nyata

Selain itu penyerahan mata uang asing yang diperjual-belikan juga dilakukan pada saat transaksi atau paling lambat dalam jangka waktu dua hari.

Fatwa MUI bukan tentang trading forex

Beberapa penjelasan mengenai kebolehan trading forex menurut Islam, mengunakan fatwa MUI tentang jual beli mata uang sebagai rujukan. Padahal, isi fatwa tersebut adalah mengenai skema jual/beli mata uang asing yang boleh dilakukan dan yang tidak.

Sebaiknya, menghukumi trading forex halal atau haram tidak disederhanakan dengan hanya berdasarkan kepada kebolehan transaksi spot. Sebab, aktivitas trading forex atau trading forex online tidak identik dengan transaksi jual beli mata uang.

Setidaknya tercermin dalam dua hal berikut ini:

Pertama adalah perbedaan sudut pandang tentang uang.

Pada trading forex uang dianggap sebagai barang, sehingga bisa diperjualbelikan layaknya barang lainnya. Sedangkan pada fatwa MUI uang bukan barang, melainkan alat tukar dan tergolong barang ribawi. Sehingga transaksinya mengikuti ketentuan jual beli emas dalam Islam.

Dan kedua adalah motif transaksi.

Seperti diketahui, cara trading forex online dimulai melihat kondisi pasar dan memprediksi apakah nilai suatu mata uang akan mengalami kenaikan atau penurunan. Lalu melakukan pembelian atau penjualan mata uang, diklaim dilakukan secara spot, dengan tujuan untuk memperoleh keuntungan dari selisih harga saat pembelian dan penjualan valuta asing.

Sedangkan ketentuan mengenai jenis forex yang halal adalah transaksi yang dilakukan tidak untuk spekulasi dan untuk kebutuhan berjaga-jaga atau sebagai simpanan.

Karena itulah, fatwa MUI tentang forex bukan tentang trading forex, sehingga tidak tepat memberikan klaim trading forex adalah halal, hanya berdasarkan satu dari beberapa ketentuan dalam fatwa mo 28/2002 tersebut.

Lalu bagaimana hukum trading?

Kamu dapat membaca artikel ini untuk mengetahui pembahasan mengenai bagaimana hukum trading forex menurut Islam.