Fatwa MUI Tentang Forex Membolehkan Trading? Yuk, Cermati Isinya

fatwa mui tentang forex

Sampai saat ini ada dua fatwa MUI tentang forex yang telah dikeluarkan DSN-MUI. Fatwa pertama sering digunakan untuk menilai apakah trading forex halal atau haram. Meskipun jarang dibahas, fatwa kedua memberikan penjelasan tambahan dalam memahami jenis forex halal dalam Islam.

Sebenarnya, Kata Forex berasal dari istilah Foreign Currency and exchange. Masyarakat lebih mengenalnya sebagai foreign exchange, kemudian disingkat lagi sebagai forex atau Fx. Dalam Bahasa Indonesia, istilah forex dikenal sebagai transaksi valuta asing atau transaksi valas. Pengertiannya adalah suatu transaksi pertukaran mata uang ke mata uang negara lainnya.

Proses pertukaran ini dapat terjadi karena setiap negara memiliki mata uang, yang nilai yang dibiarkan bebas mengambang terhadap nilai mata uang lainnya. Akibatnya, nilai mata uang suatu negara berubah-ubah, bergantung kepada kondisi ekonomi, politik serta banyaknya permintaan.

fatwa mui tentang trading forex

Transaksi forex dapat dilakukan secara langsung melalui Bank Devisa atau money changer. Dan juga dapat dilakukan di pasar valuta asing. Pasar ini spesial, sebab buka 24 jam selama 5 hari, senin ke jum’at. Di pasar ini transaksi valas dilakukan secara online. Bisa dikatakan siapapun dapat melakukan transaksi pertukaran mata uang atau melakukan trading forex nyaris tanpa hambatan.

Namun, sebelum melakukan transaksi forex, sebaiknya seorang Muslim memahami hukum transaksi valuta asing dalam Islam. Kabar baiknya, ulama telah memberikan petunjuk untuk memahami transaksi valas melalui fatwa MUI tentang forex.

Yuk, cermati bersama isi fatwanya. dan benarkah trading forex hukumnya boleh?

Sama dengan emas

Dalam islam, semua jual beli dapat dilakukan, kecuali ada larangannya. Seperti contoh pada artikel jual beli yang sah tapi terlarang pada artikel yang lalu.

Salah satu poin kritis boleh tidaknya jual beli ada pada barang yang menjadi obyek transaksinya. Selain harus memenuhi ketentuan barang merupakan benda yang diperbolehkan, juga perlu mengetahui apakah obyek transaksi termasuk salah satu dari barang ribawi.

Dalam forex, Barang yang menjadi obyek transaksi adalah valuta asing (currency). Mayoritas ulama berpendapat bahwa mata uang suatu negara dapat dikategorikan kedalam salah satu dari dua kategori barang ribawi.

Jika dahulu emas dan perak biasa digunakan sebagai alat tukar.  Maka begitu juga dengan currency atau valuta asing pada masa sekarang. Uang merupakan alat tukar yang diterbitkan suatu negara dan sah digunakan untuk transaksi.

Karena itulah, agar terhindar dari melakukan macam-macam riba zaman now, transaksi valas dilakukan mengikuti kaidah transaksi emas dan perak .

Fatwa MUI tentang Forex

Dewan Syariah Nasional mulai menerbitkan fatwa keuangan syariah sejak tahun 2000. Pada tahun tersebut DSN-MUI menerbitkan 18 fatwa, semuanya berkaitan dengan Bank Syariah. Adapun fatwa MUI mengenai valuta asing diterbitkan pada tahun 2002. Yaitu fatwa nomor 28/DSN-MUI/III/2002 tentang jual beli mata uang atau al-sharf.

Pertimbangan MUI menetapkan fatwa al-sharf untuk untuk dijadikan pedoman sebab tradisi perdagangan valuta asing mengenal beberapa bentuk transaksi. Dan setiap transaksi valas tersebut memiliki status hukum transaksi sesuai syariah yang berbeda.

Setidaknya terdapat 4 jenis transaksi valuta asing yang terjadi di pasar valas; Transaksi spot, forward, swap dan opsi. Namun, tidak semua transaksi ini dapat dibenarkan untuk dilakukan sesuai kaidah muamalah dalam islam. Berikut ini isi fatwa MUI mengenai keempat transaksi forex tersebut:

  • Spot – transaksi pertukaran dengan waktu penyelesaian pada saat itu (over the counter) atau maksimal 2 hari, jika dilakukan dengan transfer internasional antar bank. MUI menetapkan bahwa transaksi spot boleh dilakukan.
  • Forward – forex yang dilakukan dengan mekanisme harga yang diperjanjikan sekarang dengan penyelesaian transaksi dalam 2 hari hingga satu tahun. Transaksi valuta asing ini hukumnya haram menurut MUI
  • Swap – kontrak pembelian atau penjualan valas dengan harga spot dan diikuti dengan transaksi pembelian atau penjualan valas yang sama dengan harga forward. Hukum transaksi swap forex menurut MUI adalah haram
  • Option – transaksi atas hak untuk melakukan pembelian atau penjualan valuta asing, dengan harga dan waktu tertetu di masa depan. Transaksi ini dihukumi sama dengan transaksi swap

Transaksi swap dan option tidak dibolehkan karena mengandung unsur spekulasi (maysir). Sedangkan transaksi forward dilarang karena tidak sesuai dengan kaidah pertukaran emas dengan emas, yang harus dilakukan secara spot.

Fatwa tentang forex lainnya

Tiga belas tahun sejak fatwa mengenai al-sharf diterbitkan, DSN-MUI menerbitkan kembali fatwa tentang forex. Yaitu fatwa nomor 96/DSN-MUI/IV/2015 tentang transaksi lindung nilai syariah (Islamic Hedging) atas nilai tukar.

Rujukan ini juga merupakan penjelasan tambahan dari hukum transaksi forward pada fatwasebelumnya tentang jual beli mata uang. Pada fatwa nomor 28 tersebut DSN memberikan rujukan mengenai boleh melakukan transaksi forward, apabila ada kebutuhan transaksi yang tidak dapat dihindari (lil hajah).

MUI menerbitkan fatwa tersebut untuk kebutuhan mitigasi resiko akibat fluktuasi nilai tukar mata uang, khususnya yang dialami oleh lembaga-lembaga pada industri keuangan syariah. Sehingga mereka yang membutuhkan transaksi lindung nilai syariah atau hedging syariah memiliki rujukan ketentuan akad dan mekanisme transaksinya. serta memahami batasan dan ketentuan, agar tidak terjerumus melakukan transaksi muamalah yang terlarang dalam Islam.

Benarkah fatwa MUI membolehkan trading?

Beberapa penjelasan mengenai kebolehan trading forex dalam pandangan Islam, mengunakan fatwa nomor 28 tahun 2002 sebagai rujukan. Tapi benarkah fatwa MUI tentang jual beli mata uang tersebut membolehkan trading forex?

Sebenarnya, fatwa-fatwa MUI tentang al-sharf berisi rujukan mengenai forex mana yang boleh dilakukan dan mana yang tidak.

 

MUI menyatakan bahwa forex, transaksi jual beli mata uang asing, hukumnya boleh apabila dilakukan secara spot. Sedangkan transaksi lainnya haram. Kecuali transaksi forward yang dilakukan dengan mekanisme lindung nilai syariah.

Namun, menghukumi trading forex halal atau haram sebaiknya tidak disederhanakan dengan hanya berdasarkan kepada kebolehan transaksi spot forex. Sebab, aktivitas trading forex atau trading forex online tidak identik dengan transaksi jual beli mata uang. Setidaknya dapat tercermin dalam dua hal berikut ini.

Pertama adalah perbedaan sudut pandang tentang uang. Pada trading forex uang dianggap sebagai barang, sehingga bisa diperjualbelikan layaknya barang lainnya. Sedangkan pada fatwa MUI uang bukan barang, melainkan alat tukar dan tergolong barang ribawi. Sehingga transaksinya mengikuti ketentuan jual beli emas dalam Islam.

Sedangkan yang kedua adalah motif transaksi. Seperti diketahui, cara trading forex online dimulai melihat kondisi pasar dan memprediksi apakah nilai suatu mata uang akan mengalami kenaikan atau penurunan. Lalu melakukan pembelian atau penjualan mata uang, diklaim dilakukan secara spot, dengan tujuan untuk memperoleh keuntungan dari selisih harga saat pembelian dan penjualan valuta asing.

Sedangkan jika mencermati pada fatwa MUI, ketentuan mengenai jenis forex yang halal adalah transaksi yang dilakukan tidak untuk spekulasi (untung-untungan) dan didasari karena ada kebutuhan untuk berjaga-jaga atau sebagai simpanan.

Kesimpulannya, fatwa MUI tentang forex  tidak menegaskan boleh atau tidaknya trading forex online. Melainkan merupakan rujukan cara melakukan transaksi valuta asing sesuai syariah untuk memenuhi kebutuhan dan bukan dengan maksud berspekulasi.

Sharing ke Temanmu,