[ADINSERTER AMP]

5 Contoh Jual Beli yang Batil dan Cara Menghindarinya

Contoh jual beli yang batil seringkali terjadi saat masyarakat melakukan macam-macam jual beli dalam kehidupan sehari-hari.

Transaksi jual beli batil tersebut terjadi karena ketidaktahuan para pihak yang terlibat mengenai rukun jual beli, syarat pembeli dan penjual, serta syarat jual beli.

Padahal, dalam Islam sangat dianjurkan untuk melakukan sesuatu dengan ilmu, baik ibadah maupun muamalah.

Ali bin Abi Tholib mengatakan bahwa “barangsiapa yang berdagang sebelum memahami ilmu agama, mereka akan terjerumus kedalam riba, dan terus menerus terjerumus kedalamnya.”

Oleh karena itu, pemahaman mengenai syarat dan rukun jual beli dalam islam, pengertian khiyar dan macam-macamnya, serta kaidah muamalah lainnya, mutlak diperlukan agar menghasilkan transaksi jual beli yang dianggap baik oleh syariat.

Sehingga mencegah terjadinya jual beli yang terlarang karena merugikan pihak pembeli maupun penjual.

Jual beli batil dan fasid

Secara umum, jumhur ulama membagi konsekwensi hukum atas akad jual beli menjadi dua.

Pertama, jual beli yang akadnya memenuhi ketentuan rukun dan syarat akad (jual beli sah).

Dan yang kedua, jual beli yang akadnya tidak memenuhi syarat dan rukun akad dalam muamalah. transaksi ini disebut juga sebagai jual beli yang tidak sah atau jual beli yang batil.

Sedangkan pengelompokan jual beli tidak sah menjadi jual beli batil dan fasid merupakan turunan dari pendapat madzhab hanafi.

Para ulama hanafiah berbeda pendapat dengan jumhur ulama dalam menafsirkan larangan dalam nash terkait transaksi yang dilakukan.

Terdapat dua pokok perbedaan batil dan fasid menurut pendapat para ulama, yaitu:

Pertama, Jumhur ulama berpendapat bahwa larangan dalam nash terhadap suatu transaksi memiliki konsekwensi transaksi tersebut menjadi batal dan pelakunya berdosa.

Sedangkan menurut madzhab hanafi, adakalanya larangan dalam suatu nash menyebabkan dosa bagi pelaku transaksi, namun tidak membatalkan transaksi yang dilakukan.

Kedua, mayoritas ulama menyepakati bahwa larangan yang terkait dengan rukun jual beli (transaksi) dan sifat tertentu dalam transaksi menyebab transaksi menjadi batil.

Namun, menurut ulama hanifiah, jika larangan terkait dengan sifat transaksi tidak menyebabkan batalnya transaksi. Karena kemashlatan umat perlu diperhatikan dalam persoalan muamalah.

Dampak dari perbedaan batil dan fasid ini adalah pada konsekwensi hukum transaksi jual beli yang dilakukan.

Sehingga, macam-macam muamalah yang fasid dapat menjadi sah transaksinya, apabila penyebab akad jual beli menjadi fasid, dapat dihilangkan.

Contoh jual Beli yang Batil

Pengertian jual beli batil adalah transaksi jual beli yang tidak memenuhi syarat dan rukun jual beli. Biasanya jual beli disebut sebagai transaksi batil, apabila tidak terpenuhinya syarat barang dari rukun jual beli dalam islam.

Sedangkan, jika syarat harga yang melekat pada rukun jual beli tidak terpenuhi, maka transaksi tersebut merupakan contoh jual beli yang fasid.

Berikut ini adalah 5 contoh sederhana jual beli yang batil dalam kehidupan sehari-hari.

  1. Bai’ Ma’dum

Setiap bentuk-bentuk jual beli yang tidak ada barangnya adalah bai’ ma’dum. Transaksi ini mengandung unsur ketidakjelasan. Sehingga merupakan jual beli batil.

Salah satu contoh jual beli batil ialah transaksi bai’ ma’dum adalah jual beli anak ternak yang masih didalam kandungan dan buah-buahan yang masih berada di pohonnya.

  1. Bai’ Ma’jus Taslim

Salah satu syarat barang yang diperjual belikan adalah barang tersebut dapat diserahterimakan.

Oleh karena itu, menjual barang yang mustahil atau tidak dapat diserahterimakan (bai’ Ma’jus Taslim) merupakan contoh jual beli yang batil.

Sehingga, jual beli burung yang sedang terbang, atau burung yang terlepas dari sarangnya, dan transaksi-transaksi lain yang sejenis adalah tidak sah.

  1. jual beli Gharar

Pengertian jual beli gharar adalah transaksi jual beli yang tidak diketahui rupa, takaran dan sifat barangnya.

Sehingga pada transaksi gharar seringkali terjadi spekulasi untung-untungan dari pihak yang berakad.

Contoh jual beli gharar sederhana adalah transaksi jual beli ikan yang ada di dalam kolam.

Sebab, pada contoh jual beli batil ini pertukaran uang dan barang antara penjual dan pembeli tidak ada takaran yang jelas. Sehingga berpotensi merugikan pihak pembeli maupun penjual

  1. jual beli hutang

Hutang tidak termasuk kedalam jenis barang yang boleh diperjual belikan dalam islam. Karena itulah, transaksi jual beli dengan objek transaksi berupa hutang (bai’ dayn)  tidak dibenarkan dalam Islam.

Contoh jual beli batil ini adalah seseorang menjual 20 Kg beras yang dipinjam oleh temannya, kepada orang lain.

  1. Jual beli barang najis

Jumhur ulama berpendapat bahwa jual beli barang yang najis maupun barang halal yang terkena najis termasuk jual beli batil dan terlarang. Misal, jual beli bangkai, babi dan darah.

Cara Menghindarinya

Konsekwensi dari jual beli batil ini adalah batalnya transaksi dan para pelakunya berdosa. Sebab, telah nyata larangan Allah subhanahu wa ta’ala mengenai larangan mengambil harta orang lain dengan cara yang batil (QS. An-Nissaa, ayat 29)

Oleh karena itu, ragam contoh jual beli yang batil dan turunannya sebaiknya tidak dilakukan.

Dan salah satu metode terbaik untuk menghindari transaksi batil adalah dengan memastikan pemenuhan syarat barang yang diperjualbelikan.

Pastikanlah bahwa barang yang diperjualbelikan merupakan barang yang halal, bermanfaat, dapat diserahterimakan, dan ditransaksikan dengan takaran yang jelas.

Bagikan artikel ini,

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.