3 Contoh Akad Musyarakah dalam Kehidupan Sehari-hari

Contoh akad musyarakah dalam kehidupan sehari-hari

Selain praktek akad mudharabah, contoh akad musyarakah dalam kehidupan sehari-hari juga mudah ditemukan. Kedua jenis akad ini merupakan macam-macam syirkah. Sehingga, memiliki ciri khas sistem bagi hasil dalam islam. Yaitu, adanya kerjasama modal untuk menjalankan kegiatan usaha, selama jangka waktu tertentu, dan dengan pembagian keuntungan antara para pihak. Namun, praktek akad musyarakah yang berbeda dengan akad mudharabah. Hal ini karena salah satu perbedaan mudharabah dan musyarakah berikut ini:

  • Akad mudharabah – tidak ada modal dari pengelola, karena modal uang 100% dari shahibul maal
  • Akad musyarakah – baik pemilik modal (shahibul maal) dan pengelola mengikutsertakan modal

Beberapa contoh akad musyarakah dalam kehidupan sehari-hari ini lazim digunakan pada produk pembiayaan lembaga keuangan syariah, khususnya bank syariah. Sedangkan yang lainnya merupakan contoh akad musyarakah sederhana dalam kegiatan muamalah masyarakat.

1. Kerjasama Usaha Bagi hasil

Praktek kerjasama usaha bagi hasil dalam islam ini memberikan kemudahan bagi pemilik usaha yang mencari investor untuk modal usaha. Serta peluang bagi pemilik dana yang hendak berinvestasi. Melalui mekanisme sistem bagi hasil atas keuntungan usaha.

Pengelola usaha dapat memperoleh manfaat musyarakah, sebab lebih mudah dalam mencari investor untuk pengembangan usaha. Hal ini karena kebutuhan modalnya menjadi lebih sedikit.

Sedangkan investor mendapatkan manfaat musyarakah dengan tidak terpapar resiko terburuk. yaitu, mengalami kerugian lebih besar, apabila usaha gagal bukan karena kesalahan pengelola. Seperti yang menjadi ketentuan dalam akad mudharabah dan contohnya.

Tambahan lagi, dengan ikut menyertakan sejumlah modal untuk kegiatan bisnis yang ditawarkan kepada investor, dapat menambah keyakinkan pemodal (shahibul maal). Umumnya pemodal menyukai pengelola yang mampu memasukkan sejumlah modal untuk usahanya. Sebab setidaknya membantu mereka mengindentifikasikan dua hal berikut ini:

  • Keyakinan pengelola bahwa usaha akan membawa keuntungan
  • Kemampuan pengelola, mengelola usaha sehingga mampu mendatangkan laba yang akan dibagi-hasilkan.

Contoh akad musyarakah dalam kehidupan sehari-hari banyak kita temukan dalam berbagai kerjasama usaha bagi hasil. Misalnya, pada studi kasus sistem bagi hasil pengembangan usaha ternak lele berikut ini.

Seorang peternak lele, mampu menghasilkan 50 Kg lele per harinya. Dia berencana menaikan kapasitas produksinya hingga mencapai 100 Kg / hari. Namun, Keuntungan yang diperolehnya tidak mencukupi untuk membiayai keseluruhan kebutuhan penambahan luas kolam lele, pembelian bibit dan pakan lele.

Peternak lele kemudian menawarkan kerjasama usaha kepada investor, dengan persyaratan modal dari investor 60% dan peternak sisanya. Porsi keuntungan dapat disepakati, apakah dari keseluruhan kapasitas produksi 100 kg/hari, atau mengunakan hasil penambahan kapasitas produksi sebesar 50 kg/hari.

Skema seperti ini juga merupakan contoh akad musyarakah permanen, yaitu perjanjian musyarakah dengan menetapkan porsi bagi hasil (nisbah), yang tetap selama selama masa kontraknya.

2. Pembiayaan modal kerja bank

Bank syariah juga dapat menjadi alternatif bagi pengusaha yang membutuhkan modal usaha dengan skema bagi hasil. Produk pembiayaan modal kerja bank syariah dan pembiayaan rekening koran syariah merupakan dua contoh akad musyarakah bank syariah yang banyak diminati nasabah.

Skema musyarakah pada bank syariah menempatkan bank sebagai shahibul maal. Sebagai investor bank akan meneliti kelayakan usaha untuk dijadikan objek musyarakah. Beberapa metode berikut ini dapat dilakukan bank dalam melakukan studi kelayakan usaha memperoleh tambahan modal:

  • Analisa kemampuan usaha menghasilkan keuntungan – dapat dilakukan mengunakan rumus laba rugi atau analisa laporan keuangan usaha mengunakan rumus rasio keuangan untuk studi kelayakan bisnis
  • Analisa cash flow usaha dan cash flow projection – untuk memperoleh gambaran mengenai kondisi keuangan usaha setelah memperoleh tambahan modal kerjasama usaha bagi hasil

Selain itu, bank juga meminta agar bisnis yang memperoleh pembiayaan musyarakah mengunakan rekening bank syariah tersebut, untuk menampung seluruh transaksi keuangannya. Serta menyerahkan laporan keuangan usaha secara berkala.

Hal ini dilakukan agar bank memperoleh informasi mengenai perkembangan usaha nasabah. Sehingga dapat memastikan bahwa bagi hasil yang diperoleh dari nasabah merupakan hasil keuntungan dari usaha nasabah. Bukan dari yang lainnya. Karena hal tersebut berpotensi menjadi pendapatan riba.

3. Pembiayaan KPR Bank syariah

Contoh akad musyarakah dalam kehidupan sehari-hari lainnya adalah pada transaksi KPR Bank syariah. Tidak seperti KPR Mandiri Syariah, terdapat KPR Bank Muamalat yang mengunakan akad musyarakah. Tepatnya skema hybrid contract musyarakah mutanaqisah (MMQ).

Pada akad KPR syariah ini terdapat contoh akad musyarakah dan contoh akad ijarah di bank syariah. Akad ini juga merupakan contoh akad musyarakah menurun, sebab porsi nisbahnya tidak tetap selama masa kontrak kerjasama.

Sederhananya musyarakah mutanaqisah dalam akad KPR syariah dapat diuraikan sebagai berikut:

  • Merupakan kerjasama kepemilikan rumah antara bank dan nasabah,
  • Untuk diusahakan dengan cara disewakan kepada nasabah,
  • Dengan pembagian keuntungan sewa bagi bank dan nasabah,
  • Mengunakan nisbah dengan skema multi nisbah, yang tidak tetap selama masa perjanjian.
  • Dan keuntungan porsi nasabah digunakan untuk membeli porsi kepemilikan bank, selama masa kontrak perjanjian sewa.

Kerjasama modal dalam akan mudharabah dilakukan dengan pengabungan dana bank dan dana uang muka (DP) nasabah, untuk membeli rumah dari developer. Sedangkan pemberian bagi hasil diberikan bersumber dari pendapat sewa yang dibayarkan nasabah setiap bulannya.

Demikianlah 3 contoh akad musyarakah dalam kehidupan sehari-hari yang sering dilakukan. Manfaat akad musyarakah dapat membantu para pemilik usaha dan pemodal untuk menjalin kerjasama bisnis.

Sehingga dapat menghadirkan kemudahan dalam berusaha, sekaligus menghindari transaksi-transaksi terlarang dalam islam, seperti macam-macam riba, gharar, dan maysir.