[ADINSERTER AMP]

Barang Ribawi atau Bukan? – Cara Mudah Membedakannya

Cerita tentang riba kerapkali bersinggungan dengan pembahasan mengenai barang ribawi. Beberapa pertanyaan seperti, benda apa saja yang termasuk barang-barang ribawi? dan bagaimana cara aman melakukan transaksi dengan benda-benda tersebut? Kerap menjadi pembahasan agar terhindar dari riba yang samar wujudnya.

Bagi umat Islam, riba merupakan suatu tambahan terlarang dalam transaksi hutang uang ataupun jual beli. Sehingga pengetahuan akan hal ini amat krusial. Sebab, Rasulullah subhabahu wa ta’ala pernah memperingatkan bahwa akan datang masa saat orang yang menjauh dari riba, akan tetap terkena debunya. Sebuah peringatan akan samarnya bahaya riba di sepanjang masa.

Manfaat lain dengan mengetahui jenis benda ribawi, membuat kamu terbebas dari ketidaktahuan akan transaksi barang yang termasuk jenis riba zaman now. Sebab riba merupakan salah satu perbuatan zalim dan termasuk dosa besar. Bahkan dosa riba 36 kali lebih berat dibandingkan dosa berzina.

debu riba benda ribawi
image by pondokislami.com

Hadist barang ribawi

Sederhananya, pengertian barang ribawi adalah beberapa jenis benda yang apabila dipertukarkan atau diperjualbelikan tidak sesuai ketentuannya akan menyebabkan riba.

Dalam Islam, larangan praktek ini diberlakukan karena merupakan pintu bagi seseorang mengambil harta orang lain secara zalim. Melalui transaksi pertukaran harta benda yang tak sepadan, sehingga satu pihak mendapat keuntungan dengan merugikan pihak lainnya.

Kabar baiknya, harta benda yang wajib ditransaksikan dengan sepadan agar tidak riba tersebut, telah dijelaskan dalam dua hadist berikut ini.

Pertama, hadist dari khalifah Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu.

“Menjual emas dengan perak itu riba kecuali kontan seluruhnya, kurma dengan kurma itu riba kecuali kontan seluruhnya, gandum dengan gandum itu riba kecuali dengan kontan seluruhnya, dan sya’ir denvan sya’ir itu riba kecuali dengan kontan seluruhnya.”

Dan yang kedua, disampaikan oleh sahabat Ubadah bin Shamit radhiyallahu ‘anhu dalam hadist yang telah lazim disampaikan para ulama saat mengisi kajian muamalah bab riba.

“Emas dengan emas, perak dengan perak, sya’ir dengan sya’ir, gandum dengan gandum, kurma dengan kurma dan garam dengan garam harus sama takaran atau timbagannya dan diserahkan secara tunai. Jika jenis bendanya berbeda, juallah sesuka kalian, dengan syarat serahterima uang dan barang secara tunai juga.” (HR Muslim no. 1587).

Berdasarkan pada dua petunjuk hadist tersebut, jumhur ulama menyepakati bahwa terdapat 6 jenis barang ribawi. Yaitu, emas, perak, gandum, garam, kurma dan sya’ir. Sya’ir adalah gandum yang paling rendah kualitasnya. Biasa juga disebut sebagai gandum kasar, karena masih ada kulitnya.

Seiring perkembangan zaman, para ulama kemudian berbeda pendapat mengenai benda-benda apa saja yang termasuk benda ribawi.

Penganut mazhab zhahiri berpendapat bahwa tidak ada lagi benda ribawi, selain yang dinyatakan dalam hadist tentang hal tersebut.

Namun, jumhur ulama berpendapat bahwa barang yang memiliki kesamaan sifat dengan benda yang disebutkan nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wassalam, juga termasuk benda ribawi.

Barang ribawi atau bukan?

Untuk mengetahui benda apa saja yang jika dipertukarkan tidak sepadan berpotensi menjadi riba, para ulama mengunakan pendekatan sebab hukum atau illat, pada dalil yang telah ada. Ternyata, juga terjadi perbedaan pendapat dari para ulama ahli hadist dan fiqih terdahulu, mengenai illat pada hadist benda ribawi.

Pendapat pertama menyatakan bahwa sebab hukum larangan pada 6 benda tersebut adalah barang yang dapat ditimbang seperti emas dan perak, dan ditakar seperti 4 benda lainnya yang disebutkan dalam nash. Hal ini disampaikan oleh imam abu Hanifah dan imam Ahmad.

barang ribawi atau bukan
image by kingworldnews.com

Pendapat lainnya dari imam Syafi’i , imam Malik, dan ibnu Taimiyah memisahkan sebab hukum emas dan perak, dengan 4 benda lainnya.

Menurut ketiga ulama ahli hadist dan fikih ini, sebab hukum larangan transaksi emas dan perak dalam nash adalah karena pada kedua benda tersebut merupakan alat tukar dan standar harga untuk barang lainnya.

Sedangkan untuk keempat benda lainnya, para ulama ini berbeda pendapat akan sebab hukumnya.

  • Imam Syafi’i – illat gandum, syi’ir, garam dan kurma adalah makanan. Maka semua jenis makanan adalah barang ribawi zaman now.
  • Imam Malik – illat keempat benda lainnya adalah makanan pokok yang dapat disimpan dalam jangka waktu lama.
  • Ibnu Taimiyah – berpedapat bahwa illatnya adalah makanan yang dapat ditimbang atau ditakar.

Sehingga, besi merupakan jenis benda ribawi jika merujuk pada pendapat imam abu Hanifah dan imam Ahmad. Sebab, besi biasa ditransaksikan dengan ditimbang dan diukur.

Namun, besi bukan barang ribawi jika mengunakan pendapat imam Syafi’i, imam Malik, dan ibnu Taimiyah.

Cara transaksinya

Agar muamalah sehari-hari selamat dari riba, selalu transaksikan setiap jenis benda ribawi sesuai arahan dalam hadist dari Ubadah bin Shamit tadi. Berikut ini rumus mudah transaksinya.

Pertama, jika benda yang dipertukarkan sama jenisnya, seperti kurma dengan kurma. Lakukan secara tunai dengan pertukaran yang sama takaran atau timbangan.

Contoh transaksi ini pernah terjadi pada sahabat nabi, Sawad bin Aziyah Al Anshari. Pada masa beliau bertugas di Khaibar, beliau menemui Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam dengan membawa kurma istimewa.

contoh barang ribawi
image by evidencebasedbirth.com

Beliau menjelaskan bahwa kurma istimewa tersebut diperolehnya dengan cara menukar dua sha’ kurma khaibar dengan satu sha’ kurma istimewa. Atau tiga sha’ kurma khaibar dengan dua sha’.

Menyikapi hal itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian bersabda,”Jangan kamu membeli seperti itu! Jual kurmamu itu dengan dirham, lalu belilah kurma istimewa itu dengan dirham.” (HR Bukhari Muslim).

Dan apabila transaksi melibatkan barang ribawi yang tidak sejenis dan masih satu illat. Maka gunakan rumus kedua. Yaitu, pertukaran benda tidak harus sama takaran atau timbangan. Namun tetap harus secara tunai.

Misal menukar kurma dengan beras, boleh dilakukan dengan takaran yang disetujui oleh masing- masing pihak. Dengan syarat transaksi secara tunai atau kontan.

Cara mudah membedakannya

Pertama, pahami bahwa benda ribawi tidak terbatas hanya pada 6 benda yang disebutkan dalam nash hadist. Benda-benda yang diterima sebagai alat tukar yang sah atau bahan-bahan makanan yang dapat ditakar juga merupakan barang ribawi.

Contoh barang ribawi zaman now adalah uang kartal, baik jenis uang kertas maupun uang logam. Sebab, uang merupakan alat pembayaran yang sah dan diakui oleh pemerintah yang mengeluarkannya. Selain merupakan alat tukar, uang juga menjadi satuan harga barang. Layaknya fungsi emas dan perak saat hadist tentang benda-benda ribawi disampaikan.

Emas dan perak juga merupakan benda ribawi. Namun, sebagian ulama berpendapat bahwa emas tidak lagi termasuk kedalam kategori barang ribawi. Pendapat ini berdasarkan pada fakta bahwa emas tidak lagi digunakan sebagai alat tukar.

Salah satu contoh kasus akibat perbedaan menentukan status ribawi emas, dapat dilihat tulisan mengenai hukum kredit emas.

Selanjutnya, barang ribawi dibedakan dengan cara mentransaksikannya.

Apabila transaksi dilakukan pada benda yang jenisnya sama, harus dilakukan secara tunai dan sama banyaknya. Seperti menukar uang Rp. 1 juta dengan uang Rp. 10.000 sebanyak 100 lembar.

Sedangkan jika jenisnya berbeda, seperti contoh kasus transaksi valuta asing. Boleh dilakukan dengan jumlah atau nilai yang tidak sama.

Bagikan artikel ini,

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.