Bank Syariah dalam Asymmetric Competition

Empat Bank besar terus menguasai pasar perbankan Indonesia. Menurut Kepala Departemen Pengawas Perbankan OJK Aristiadi, “kondisi pasar di industri perbankan tidak terjadi keseimbangan dalam berkompetisi, sehingga pangsa pasar belum mampu mengalami pergeseran, kondisi ini disebut asymmetric competition, yaitu bank dengan kapabilitas yang tidak setara bersaing di segmen pasar yang sama.”

Empat Bank besar tersebut, Bank Mandiri, BRI, BNI dan BCA menguasai 45% pangsa pasar. Ke-empat bank tersebut termasuk kategori Bank Umum Kelompok Usaha (BUKU) I. Sementara itu 24 bank BUKU II menguasai 37% pangsa pasar, dan sisa pangsa pasar dimiliki oleh 59 Bank BUKU II sebanyak 16% dan 31 bank BUKU I sebesar 2%.

Peraturan perbankan Indonesia mengharuskan bank dalam melakukan kegiatan usaha dan memperluas jaringan kantor harus sesuai dengan kapasitas dasar yang dimiliki, yaitu modal inti. Bank kategori BUKU II adalah bank dengan modal inti Rp1 Triliun s.d. dibawah Rp5 Triliun. Sedangkan Bank Kategori BUKU III memiliki modal inti Rp5 triliun s.d. dibawah Rp30 triliun.

Dengan kondisi persaingan ini, bank-bank syariah nasional butuh waktu lama untuk memacu aset yang telah bertahun-tahun bertahan di angka 5 persen. Karena 8 dari 13 Bank Umum Syariah masih terkategori Bank Buku II dan hanya Bank Syariah Mandiri yang terkategori Bank Buku III.

Bank Syariah diharapkan terus menambah modal inti mereka agar dapat lebih leluasa membuka jaringan kantor layanan baru untuk memperbesar pangsa pasarnya, yang tahun ini telah dapat menembus angka psikologis 5%. Sejarah itu terjadi pada 19 September 2016 setelah BPD Aceh resmi mendeklarasikan diri sebagai Bank Aceh Syariah.

Tahun 2017, diharapkan Bank Muamalat naik BUKU menjadi bank BUKU III dan perbankan syariah menemukan strategi efektif efisien untuk bersaing dalam kondisi asymetric competition ini, agar pangsa pasarnya terus tumbuh dan tidak tergerus oleh pertumbuhan bank konvesional yang terus melaju.

AH