[ADINSERTER AMP]

Ariyah dan 5 kaidah pinjam meminjam dalam islam

Pertanyaan tentang ariyah memang tidak sebanyak pertanyaan mengenai akad muamalah lain, seperti akad murabahah dan ijarah.

Meskipun begitu, setiap muslim sepatutnya sangat paham mengenai bab ariyah. Sebab, banyak permasalahan dalam kehidupan sehari-hari, dapat diselesaikan hanya dengan akad tolong menolong ini.

Meskipun telah terbiasa mempraktekkannya, Anda tetap perlu kehati-hatian dalam menjalaninya. Agar tidak tergelincir melakukan dosa ghasib dan berbuat zalim terhadap sesama.

ariyah dan pinjam meminjam
image by abovewhispers.com

Itulah sebabnya, penjelasan ringkas mengenai batasan ‘ariyah, rukun, syarat, serta kaidah yang harus diikut kami tuliskan.

Coba cermati detail penjelasan selanjutnya berikut ini.

Ariyah Adalah?

Ariyah adalah nama lain dari transaksi pinjam meminjam dalam islam. Kata ariyah berasal dari kata bahasa arab I’arah, yang bermakna meminjamkan.

Transaksi muamalah ini dapat memberikan manfaat yang besar bagi orang yang tidak mampu, karena berlandaskan pada akad tabarru, bukan akad bisnis.

Syariat Islam sangat menganjurkan penerapannya dalam kehidupan bermasyarakat. Hal tersebut sesuai dengan ketentuan yang Allah subhanahu wa ta’ala syariatkan. Seperti tampak pada ayat Al-Quran berikut ini.

  • Al-Maidah ayat 2, berupa perintah tolong-menolong dalam mengerjakan kebaikan dan taqwa
  • Al-Maun ayat 7, merupakan celaan bagi orang yang enggan menolong dengan barang yang bermanfaat

Dan Nabi Muhammad shallalahu ‘alaihi wassalam juga memberikan motivasi mengenai hal ini. Berupa berita mengenai pertolongan Allah subhanahu wa ta’ala bagi hambanya yang mau menolong sesamanya.

Karena pentingnya hikmah transaksi pinjam meminjam ini, para ulama ahli fiqih terdahulu telah memberikan penjelasan terperinci. Sehingga umat memiliki tuntunan tentang cara yang tepat mejalankan perjanjian ‘ariyah.

Namun, terdapat khilafiyah pengertian ariyah dari para ulama ahli fiqih tersebut.

Ulama dari mazhab hanafi dan maliki memberikan pengertian istilah ariyah sebagai akad penyerahan kepemilikan manfaat atas barang, selama waktu tertentu dan tanpa adanya imbalan.

Sedangkan menurut ulama mazhab syafi’i, ariyah adalah pemberian izin mengunakan suatu barang. Dan dengan ketentuan barang tersebut tetap wujudnya selama pengunaanya, serta tanpa disertai imbalan.

Perbedaan definisi tersebut menimbulkan konsekwensi fiqih berbeda. Cermati penjelasannya pada bahasan mengenai prinsip pinjam meminjam berikut.

Rukun Pinjam Meminjam

Seperti halnya akad muamalah lainnya, terdapat beberapa hal yang harus ada oleh setiap perjanjian, atau rukun akad.

Pada muamalah bab ariyah, setidaknya terdapat 4 rukun pinjam meminjam. Dan dalam Islam, agar transaksinya sah masing-masing rukun memiliki syarat yang harus dipenuhi.

Meskipun Anda yang telah rutin bertransaksi peminjaman barang, Sebaiknya cermati rukun pinjam meminjam dan syaratnya berikut ini. Agar memastikan transaksi yang dilakukan telah sesuai ketentuan syariat.

1. Para pihak

Rukun ariyah yang pertama terdiri dari dua pihak, yaitu pihak yang mengutangkan (mu’ir) dan yang menerima peminjaman (mus’tair).

Dalam mazhab syafi’i, para pihak tersebut disyaratkan adalah mereka yang  berakal dan baligh. Serta bukan pihak yang tertahan untuk melakukan sesuatu.

Sedangkan, sebagian ulama mazhab lainnya mensyaratkan pelaku transaksi cukup mumayyiz saja. Yaitu, mereka yang telah dapat membedakan mana yang baik dan tidak baik, dengan akalnya.

2. Ada benda yang dipinjamkan

Para ulama mensyaratkan bahwa barang yang dipinjam haruslah barang yang dapat dimanfaatkan sesuai kebutuhan si peminjam. Maka tidak sah, meminjamkan mobil dalam kondisi mesin rusak kepada orang lain.

Selain itu, juga disyaratkan bahwa pihak mu’ir memiliki hak atas manfaat barang yang dipinjamkan kepada musta’jir.

Syarat berikutnya, barang yang dipinjam wujudnya tidak habis. Dan dapat dikembalikan dalam wujud yang utuh dan sama, seperti ketika di pinjam.

Hal inilah yang menjadi perbedaan ariyah dan qardh. Sebab, pada transaksi qardh, yang dipinjamkan adalah uang. Dan sangat sulit bagi peminjam untuk mengembalikan pinjaman dengan fisik uang yang sama seperti yang diterima dari pemiliknya.

3. Shighat

Dalam islam shighat bermakna pernyataan.

Maka setiap perjanjian pinjam meminjam, haruslah ada pernyataan dari mu’ir. Mengenai kebolehan bagi musta’jir mengambil manfaat atas barang yang dipinjamkannya.

Begitu juga sebaliknya. Penerima pinjamanan mengeluarkan pernyataan pengakuan meminjam atau berhutang barang kepada pemilik barang.

Pada prakteknya, shighat ariyah dapat dilakukan dengan ucapan ataupun perbuatan tertentu, sesuai dengan kebiasaan yang berlaku.

Agar transaksi peminjaman barang sah, maka semua syarat dari rukun pinjam meminjam harus dipenuhi. Sehingga tidak menjadi transaksi batil, seperti halnya contoh jual beli yang batil dalam muamalah sehari-hari.

Kaidah Pinjam Meminjam dalam Islam

Lalu, bagaimana caranya menjalankan transaksi ariyah yang benar, sehingga transaksinya berlangsung baik, saat awal perjanjian hingga akhir masa peminjaman barang?

Terutama, ketika menemui permasalahan dalam ariyah yang belum dijelaskan di dalam rukun dan syaratnya.

Nah, Beberapa prinsip pinjam meminjam berikut ini dapat menjadi rujukan transaksi Anda.

1. Pengembalian di luar waktu peminjaman

Tengat waktu pengembalian barang bukanlah rukun. Namun, sebaiknya dinyatakan dalam perjanjian.

Ulama berbeda pendapat mengenai kebolehan pemilik barang meminta pengembalian barang, lebih awal dari perjanjiannya.

Pendapat pertama adalah barang tidak boleh diminta kembali sebelum jangka waktu peminjaman yang disepakati.

Ulama malikiyyah berpendapat bahwa hal ini sesuai dengan syariat dalam Al-Quran surat Al-Maidah ayat 1, yaitu agar setiap orang yang beriman memenuhi aqad yang telah dibuatnya.

Dan juga, sesuai dengan hadist mengenai terikatnya setiap muslim dengan syarat-syarat yang disepakati diantara mereka, termasuk syarat dalam muamalah.

Sedangkan ulama mazhab lainnya berpendapat bahwa boleh hukumnya pemilik barang, meminta pengembalian barang diluar waktu perjanjian. Kecuali jika percepatan pengembalian tersebut menimbulkan mudharat bagi pihak peminjam.

2. Barang pinjaman rusak, diganti atau tidak?

Jumhur ulama sepakat mengenai tidak adanya pergantian barang akibat pemakaian yang normal. Sebab, pemberian izin untuk mengunakan barang, berarti juga merelakan terjadinya kerusakan yang wajar akibat pemakaian. Dan umumnya benda pasti mengalami penurunan kualitas, ketika sudah digunakan berulang-ulang.

Sedangkan, untuk kerusakan bukan karena pemakaian normal. Para ulama berbeda pendapat. Hal ini disebabkan perbedaan dalam menentukan status pinjam-peminjam tersebut. Apakah ariyah yad damanah atau yad amanah?

Para ulama hanafiyah berpendapat bahwa pinjam meminjam merupakan ariyah yad amanah, Yaitu, peminjam berstatus sebagai pemegang amanah dari pemilik barang.

Konsekwensinya adalah tidak adanya tanggung jawab peminjam untuk menganti kerusakan barang. Selama tidak terjadi karena kelalaian atau kecerobohannya.

Hal ini didasarkan pada hadist riwayat ad-Daruqutni mengenai peminjam yang tidak berkhianat, tidak wajib menanggung kerusakan barang yang dipinjamnya.

Sedangkan ulama syafi’iyah memandang bahwa pinjam meminjam merupakan jenis ariyah dhamanah. Artinya, peminjam bertindak sebagai penjamin atas barang milik orang lain yang dipinjamnya.

Hal ini berdasarkan hadis dari Umayyah bin Shafwan, yang menceritakan tentang Nabi Muhammad shallalahu ‘alaihi wassalam meminjam tameng dari ayahnya, pada waktu perang hunain. Dan Nabi mengatakan bahwa pinjaman tersebut adalah pinjaman yang dijamin.

Sehingga, apapun kondisi dan penyebabnya, si peminjam bertanggung jawab menganti kerusakan barang yang dipinjamnya.

3. Batasan pengunaan barang

Jika pinjam meminjam terjadi tanpa ada batasan dalam pemakaian barang dari pemilik. Maka pihak peminjam boleh mengunakannya untuk keperluan yang dibenarkan sesuai ‘urf atau kebiasaan yang berlaku.

Contoh pada kasus pinjam meminjam kendaraan.

ariyah adalah pinjam meminjam dalam islam
image by rollingalpha.com

Apabila tidak ditegaskan pengunaannya, maka sepeda tersebut  dapat digunakan untuk berjalan-jalan, namun tidak untuk mengangkut beban. Sebab, ‘urf atau kebiasaan pengunaan sepeda bukan untuk mengangkut beban.

Dan apabila pemilik barang mensyaratkan batasan pemakaian tertentu, seperti pengunaan sepeda untuk trek jalan kota saja. Maka persyaratan tersebut harus dipenuhi. Karena pelanggaran atas batasan pengunaan tersebut termasuk perbuatan ghasab dalam islam.

4. Menyewakan barang yang dipinjam

Akibat perbedaan pengertian ariyah oleh para ulama, maka terdapat dua hukum mengenai kebolehan menyewakan barang yang dipinjam.

Pendapat dari ulama syafi’iyyah adalah peminjam tidak dibenarkan menyewakan, atau meminjamkan barang pinjaman kepada pihak lain.

Sebab, peminjam hanya diberi izin untuk mengunakan barang, dan bukan menerima penyerahan kepemilikan. Larangan menyewakan kembali juga bertujuan untuk memudahkan pemilik meminta kembali barang yang dipinjamkan, apabila sewaktu-waktu dibutuhkan.

Sedangkan kalangan ulama malikiyyah berpendapat bahwa pemilik boleh menyewakan atau meminjamkan tanpa izin pemilik. Karena, telah menerima penyerahan kepemilikan dari pemilik barang. Selain itu juga karena pemilik barang hanya dapat meminta kembali barang yang dipinjamkan, setelah berakhirnya jangka waktu perjanjian.

5. Hukum ariyah

Pada dasarnya, ariyah hukum fiqihnya adalah sunnah, selama transaksi memberikan manfaat kepada peminjam, dan tidak menimbulkan mudharat bagi pemilik barang.

Namun, hukum pinjam meminjam dapat berubah menjadi wajib, makruh, dan haram. Hal ini bergantung kepada kondisi peminjam dan tujuan pengunaan barang pinjaman.

Contoh ariyah yang diharamkan adalah meminjamkan barang untuk digunakan berbuat maksiat dan kejahatan. Termasuk juga haram meminjamkan kepada pihak yang melakukan macam-macam riba.

Sedangkan, contoh pinjam meminjam yang diwajibkan adalah memberikan pinjaman barang kepada pihak yang sangat membutuhkan, yang bila tidak diberikan pinjaman dapat menimbulkan mudharat baginya.

Demikianlah penjelasan mengenai rukun pinjam meminjam dan beberapa kaidah dasarnya. Meskipun transaksi ini telah biasa dilakukan, sebaiknya tetap berhati-hati menjalankannya sesuai syariah. Agar menolong menjadi berkah.

Bagikan artikel ini,

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.