[ADINSERTER AMP]

Apakah Alasan Para Ulama yang Membolehkan Bank Konvensional? (Pro-Kontra)

Pro kontra pendapat ulama tentang bank berkenaan dengan pembahasan mengenai halal haram bunga bank hingga pendapat ulama tentang riba. Para ulama menafsirkan pandangan Alquran tentang riba guna menetapkan hukum riba dan bunga bank.

Mayoritas ulama berpendapat bahwa hukum bank konvensional adalah haram. Namun beberapa ulama yang membolehkan bunga bank memberikan argumentasi mengenai kebolehan transaksi di bank. Lalu, apakah alasan para ulama yang membolehkan bank konvensional?

PRO

Berbeda dengan pendapat ulama yang mengharamkan bunga bank, karena adanya kewajiban tambahan pengembalian sebesar bunga pada praktek bank. Sehingga, praktek tersebut termasuk dalam kategori macam-macam riba dalam kehidupan sehari-hari. Beberapa ulama berpendapat bahwa bunga bank halal.

Berikut ini adalah beberapa alasan para ulama yang membolehkan bank konvensional dan sistem bunganya:

1. adanya kerelaan

Pendapat ini disampaikan oleh Sayyid Muhammad Thanthawi. Menurut beliau, melakukan penyimpanan dana atau pinjam uang di bank konvensional hukumnya adalah halal. Meskipun ada penentuan bunga pada awal akad antara nasabah dan bank konvensional,

Hal tersebut karena, kebijakan penentuan bunga terlebih dahulu, mencegah terjadinya perselisihan dan penipuan. Dan juga, karena penetapan bunga telah dilakukan dengan perhitungan yang teliti. Serta dilakukan berdasarkan kerelaan antara nasabah dan bank konvensional.

Alasan para ulama yang membolehkan bank konvensional ini senada dengan hasil keputusan Majma al-buhust al-Islamiyah pada tahun 2002.

Lembaga riset Islam yang berkedudukan di mesir tersebut menyatakan bahwa mereka yang melakukan transaksi dengan bank konvensional, pada dasarnya menjadikan bank sebagai wakil mereka. Perwakilan tersebut ditujukan untuk menginvestasikan dana yang mereka miliki dengan keimbalan keuntungan dan waktu yang disepakati.

Karena tidak ada teks atau nash dalam Al-Quran yang melarang transaksi dengan penetapan keuntungan atau bunga pada awal transaksi berdasarkan Al-quran dan sunnah, selama dilakukan dengan kerelaan kedua belah pihak. Maka lembaga tersebut menarik kesimpulan bahwa transaksi dalam bentuk ini adalah halal.

2. jenis muamalah baru

Seperti halnya disampaikan oleh Dr. Ibrahim abdullah An-Nashir. Bahwa tidak akan ada kekuatan islam tanpa adanya kekuatan ekonomi. Dan kekuatan ekonomi tidak dapat terwujud tanpa ditopang oleh perbankan, yang pasti ada ribanya.

Namun, beliau juga mengatakan bahwa sistem perbankan tidak sama dengan jenis-jenis transaksi ribawi yang dilarang dalam nash-nash Al-Quran. Hal ini dikarenakan bank dan sistem bunganya adalah jenis muamalah yang baru. Maka hukum bunga bank tidak tunduk kepada nash Al-Quran atau lafaz atau teks Al-Quran yang menunjukkan satu makna yang jelas mengenai pelarangan transaksi ribawi.

3. Tidak berlipat ganda

Salah satu ayat Al-Quran tentang riba menyampaikan pelarangan mengambil riba dengan berlipat ganda (QS. Ali Imran, ayat ke-130). Namun beberapa pendapat ulama Indonesia tentang bunga bank menyatakan bahwa bunga pada perbankan konvensional bukanlah merupakan jenis riba dengan berlipat ganda.

Pertimbangannya adalah bahwa sistem perbankan tidak mengandung unsur eksploitasi antara satu pihak kepada pihak lainnya. Pendapat ini disampaikan oleh A. Hasan Bangil, sehingga beliau membolehkan bank konvensional.

4. Penyimpangan sementara

Seorang ulama dan pakar fikih kontemporer asal Suriah, Mustafha Ahmad Zarqa (1904-1998) menyampaikan bahwa sistem perbankan merupakan fakta lapangan yang tidak dapat dihindari, karena alasan kebutuhan ataupun keamanan. Meskipun begitu, hukum meminjam uang di bank konvensional ataupun menabung di bank tetap haram, karena praktek bunga adalah riba.

Sehingga, beliau berpendapat boleh mengunakan bank konvensional sebagai penyimpangan sementara berdasarkan kaidah daruriyah (darurat). Tetapi, penguna bank konvensional harus berupaya mencari solusi untuk menghindari riba pada transaksi perbankan.

Adapun pendapatan bunga yang diperoleh tidak diambil sebagai pendapatan. Namun, pendapatan riba tersebut diambil dan disalurkan kepada fakir miskin, tanpa didniati zebagai zakat ataupun sedekah.

Kontra

Alasan pembolehan berdasarkan 4 pendapat ulama tentang perbankan konvensional di atas berbeda dengan mayoritas pendapat ulama tentang bunga bank riba. Majelis Ulama Indonesia (MUI) misalnya, melalui fatwa MUI no 1 tahun 2014, menyatakan bahwa bunga bank termasuk riba dan harus di ditinggalkan.

Selain itu, penetapan hukum bunga bank halal karena kesukarelaan, bertentangan dengan kaidah muamalah dalam islam. Seperti yang disampaikan oleh Yusuf Qardhawi dalam pokok-pokok ajaran tentang halal dan haram dalam islam, yaitu niat baik tidak dapat melepaskan yang haram.

Sehingga, jika riba merupakan muamalah dalam islam yang haram dilakukan, maka niat sukarela tidak dapat mengubah suatu yang haram menjadi halal.

Lalu, pendapat manakah yang akan anda terapkan? Karena riba merupakan salah satu dari macam-macam muamalah terlarang dalam islam. Dan dosa riba merupakan salah satu dosa besar.

Maka jika ragu mengenai hukum mengunakan bank konvensional, pelajari terlebih dahulu apakah alasan para ulama yang membolehkan bank konvensional dan juga alasan ulama yang mengharamkan bank konvensional. Pilihlah pendapat dan argumentasi yang lebih kuat dan dikuatkan oleh dalil Al-quran dan sunnah.

Bagikan artikel ini,

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.