[ADINSERTER AMP]

Akad Tabarru dan 10 Contohnya dalam Muamalah

Ada dua jenis akad dalam macam-macam muamalah dalam islam. Yaitu akad tijarah dan akad tabarru.

Kata tabarru berasal dari bahasa arab tabarra’a-yatabarra’u-tabarru’an yang bermakna  sumbangan, kebajikan, atau derma.

Adapun, menurut jumhur ulama pengertian tabarru adalah perjanjian yang mengakibatkan perpindahan kepemilikan harta, tanpa ganti rugi dan dilakukan secara sukarela.

Sedangkan dalam pembahasan ekonomi islam, pengertian akad tabarru adalah akad yang berkaitan dengan transaksi yang tidak bertujuan untuk mendapatkan keuntungan atau laba (nonprofit).

Akad tabarru dan contohnya

Skema akad tabarru

Seperti halnya muamalah dalam islam lainnya, perjanjian ini harus memenuhi rukun dan syarat sahnya.

Secara umumnya, rukun akad tabaru ada 3 yaitu, pihak yang memberikan pertolongan, pihak yang menerima bantuan, dan objek transaksinya.

Adapun syaratnya dapat berbeda-beda, bergantung kepada jenis akad tabarru yang ditransaksikan. Namun, secara umum perjanjian tabarru ini mensyaratkan bahwa pihak yang menolong tidak boleh meminta imbalan tertentu.

Meskipun, salah satu pihak diperkenankan meminta pembayaran kepada pihak lainnya. Namun terbatas untuk biaya yang ditimbulkan dari pembuatan atau penyelesaian kontrak perjanjian tersebut.

Contoh akad Tabarru

Contoh kasus tabarru sering dijumpai dalam kehidupan sehari-hari. Dan hukumnya adalah boleh, bahkan sangat dianjurkan. Sebab perjanjian ini memang berorientasi pada kegiatan ta’awun atau tolong-menolong.

Setidaknya contoh-contoh tabaru tersebut dapat dikelompokkan menjadi 3 golongan, berdasarkan obyek transaksinya. Berikut ini pembahasan lebih lanjutnya.

1. Uang

Kebutuhan akan uang kerap kali menjadi pemicu aktivitas tolong menolong dalam masyarakat. Sehingga uang kerap menjadi obyek transaksi tolong menolong.

Namun, Kita perlu memperhatikan kaidah syariat dalam transaksi pinjaman yang akan dilakukan. Agar terhindar dari transaksi muamalah terlarang seperti macam-macam riba dan perbuatan zalim lainnya.

Setidaknya ada 4 contoh transaksi pinjaman uang dalam muamalah sehari-hari. Ke-empat contoh kasus tersebut adalah:

  • Qardh – Pinjaman uang dengan ketentuan peminjam mengembalikan sebesar pokok pinjaman saja.
  • Qardul hasan – adalah qardh yang direlakan oleh pemberi pinjaman, sehingga penerima pinjaman tidak harus mengembalikan pokok pinjamannya.
  • Rahn – merupakan qardh yang mensyaratkan adanya jaminan milik peminjam yang ditahan oleh pemberi pinjaman.
  • Hiwalah – adalah pinjaman yang mensyaratkan adanya piutang dari penerima pinjaman.

Transaksi hiwalah dapat terjadi apabila pihak yang meminjam memiliki tagihan yang akad dibayarkan pihak lain, tapi belum diterimanya. Atas dasar tagihan yang akad diterima tersebut itulah, dia mengajukan pinjaman uang kepada pihak lain.

Akad ini sering digunakan sebagai pembiayaan berbasis akad tabarru dalam perbankan syariah. Melalui produk pembiayaan anjak piutang syariah. Dengan pendapatan bagi bank adalah sebesar ujrah yang dibayarkan oleh nasabah.

2. Jasa

Keahlian atau kemampuan tertentu juga dibutuhkan oleh mereka yang tidak memilikinya, namun ingin memperoleh manfaat dari keahlian tersebut. Oleh karena itu, terjadilah transaksi pinjam-meminjam jasa dalam muamalah.

Contoh skema tabarru dengan objek transaksinya berupa jasa adalah 3 transaksi berikut ini:

  • Wakalah – wakalah adalah menguasakan kepada pihak lain untuk melakukan tindakan hukum tertentu mewakili pihak yang memberikan kuasa
  • Wadiah – adalah pengalihan kuasa kepada pihak lain untuk melakukan pengawasan atas harta atau barang milik pemberi kuasa. Transaksi ini dikenal sebagai transaksi titipan.
  • Kafalah – adalah meminjam jasa satu pihak sebagai penanggung, yang memberikan jaminan bagi pihak peminjam jasa, kepada pihak lain.

Terdapat macam-macam kafalah dalam kehidupan sehari-hari. salah satu contoh aplikasinya di lembaga keuangan syariah adalah produk bank garansi.

Produk pembiayaan bank garansi tersebut, merupakan jaminan dari bank kepada pihak pemberi pekerjaan, bahwa bank akan membayarkan ganti rugi, apabila kontraktor mengalami kegagalan.

3. Barang

Biasanya perjanjian pinjaman barang mengharuskan pengembalian barang pinjaman oleh pihak yang meminjam.

Ataupun jika pinjaman dilakukan dengan cara menyewa, mengunakan akad ijarah, maka selesai masa sewa, pihak penyewa wajib mengembalikan barang yang disewakannya.

Namun, pada akad tabarru dengan obyek transaksi berupa barang, terjadi  kepemikan barang kepada satu pihak, tanpa ada imbalan kepada pihak yang menyerahkan barang.

Pelaksanaan transaksi ini dapat dilakukan mengunakan tiga transaksi  berikut ini:

  • Sedekah – jika pemberian obyek transaksi bertujuan untuk mencukupi kebutuhan fakir miskin atau meringankan kesulitan orang lain. Dilakukan dengan niat mencari rihdo Allah subhanahu wa ta’ala. Misal, pemberian baju untuk korban musibah gempa atau banjir.
  • Hibah – adalah pemberian hadiah atau penyerahan barang yang bersifat sukarela kepada seseorang atau satu pihak.
  • Waqaf – adalah perbuatan memisahkan sebagian harta benda milikinya untuk selama-lamanya, guna kepentingan ibadah ataupun kepeluan umum lainnya sesuai ajaran agama islam.

Selain itu, akad tabarru dengan barang dapat dilakukan mengunakan perjanjian ariyah.

Aplikasi dalam Muamalah

Kesepuluh contoh ini pada dasarnya sering digunakan untuk kebuuhan saling membantu antar sesama.

Pada perkembangannya, beberapa akad digunakan oleh lembaga keuangan syariah dalam operasional bisnisnya, bersama-sama dengan akad tijari.

Seperti akad tabarru dalam asuransi syariah yang digunakan bersama-sama dengan akad tijarah dalam asuransi syariah.

Dan juga skema hibah yang digunakan bersama akad ijarah dalam skema akad ijarah muntahiya bittamlik, pada produk perbankan syariah atau leasing syariah.

Bagikan artikel ini,

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.